http://skenakopi.com/laporan-utama/klasik-beans-perjalanan-kopi-asalan-jadi-spesialti/

Keragaman cita-rasa kopi spesialti Indonesia telah diakui dunia. Tiap tahunnya, permintaan kopi Spesialti asal Indonesia terus mengalami peningkatan. Salah satu pemasok kopi asal Indonesia yang telah diakui oleh dunia internasional adalah Klasik Beans. Klasik Beans merupakan unit koperasi di Bandung dan Garut, Jawa Barat yang berfokus pada budidaya kopi. Dalam acara From Sunda to San Fransisco: The Farm-to-Cup Journey of Indonesian Coffee di At America, Jakarta (6/10), Hamzah Robet, perwakilan dari Klasik Beans menuturkan bahwa, “Klasik Beans mampu membawa kopi berkualitas dari dataran Sunda menuju ratusan kedai kopi di Amerika dan Eropa.”

atamerica
PHOTO/AtAmerica

Perjalanan kopi di tanah Sunda dimulai sejak masa penjajahan Belanda pada abad ke 17, tepatnya di gunung Halimun (Sukabumi) dan gunung Guntur (Garut). Namun, sekitar tahun 1880, terjadi letusan gunung Guntur mengakibatkan rusaknya perkebunan kopi di Garut. Sementara itu, hama penyakit tanaman kopi di gunung Halimun, melengkapi “kepunahan” kopi di Jawa Barat. Tanaman kopi pun mulai diganti dengan sayur-mayur oleh penduduk sekitar.

Abad 17
PHOTO/AtAmerica

Pada tahun 2000-an, kopi di tanah Sunda seolah mengalami babak baru. Dengan cara yang tidak biasa, orang-orang membawa kopi berbagai varietas Arabika dari berbagai daerah seperti; Aceh, Timor Timur, Sumatra, dan lain sebagainya ke tanah Sunda.

“Pada awal tahun 2008, saat terjun langsung ke lapangan, kami melihat petani seolah mengalami semacam informasi yang terputus dalam budidaya kopi. Terdapat semacam persepsi komoditi dan volume, dimana kopi dipandang bukan untuk dikonsumsi. Maka yang kami temukan adalah kopi dengan grade asalan,” tuturnya.

Kang Hamzah
PHOTO/AtAmerica

Hamzah menunjukkan dokumentasi penelitian yang dilakukan sebelum tahun 2008, di mana para petani kopi minim informasi sehingga banyak menghasilkan grade asalan. Pada waktu itu, para petani sering melakukan pemetikan secara apres (petik sekaligus dalam satu ranting) dan kurang memerhatikan pengolahan pasca-panen. Dampaknya gabah kopi yang dihasilkan tidak sehat dan harganya jatuh. Hal tersebut berdampak kepada petani kopi sendiri.

“Ada kopi dipetik dalam kondisi masih hijau (terlalu muda) dan sudah hitam (terlalu tua). Para petani kurang memerhatikan mesin yang digunakan untuk mengolah kopi (jorok, kotor, serta bau), dan menggunakan wadah fermentasi seadanya. Jadi kopi yang dihasilkan kualitasnya tidak optimal. Harganya anjlok. Akibatnya, petani menjadi tidak memiliki motivasi untuk merawat kebun kopi,” tambahnya.

Bahaya Kesalahan Manajemen

Dedaunan kopi rontok, buah kopi berjatuhan sebelum dipanen, akar pohon kering adalah sederet dampak dari kurangnya perhatian para petani kopi terhadap manajemen tanam dan panen. Pada akhir 2008 Koperasi Klasik Beans turun ke lapangan. Kurang lebih selama dua tahun, mereka menjelaskan kepada petani bagaimana cara memelihara kebun, pemetikan, dan pengolahan pasca-panen.

Mulanya Klasik Beans menyediakan bibit kopi berkualitas kepada para petani. Mereka mengambil bibit dari pohon usia minimal empat tahun. Melalui berbagai teknik pengambilan, dari berbagai varietas yang dipastikan dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitar perkebunan, Klasik Beans menyediakan demplot (demonstration plot/lahan percontohan) untuk kemudian dikelola para petani.

“Jika batangnya lurus, maka besar kemungkinan akarnya juga lurus dan sebaliknya jika batangnya bengkok. Ibarat orang minum air menggunakan sedotan, ketika sedotan itu terlipat, maka sirkulasi air ke atas juga tidak lancar. Nah, bibit yang terakhir ini tidak sehat. Jika dipaksa ditanam juga, ketika musim kemarau akar tersebut tidak bisa bertahan lama. Apalagi kalau buahnya sudah banyak,” Hamzah menjelaskan.

Dalam melakukan pemanenan pun tidak bisa dilakukan dengan asalan. Kopi yang dipetik adalah buah kopi yang benar-benar merah. Karena pada saat itu dipastikan buah kopi memiliki kualitas prima. Jika petani telat dalam memanen atau buah kopi telah kehitaman, maka hal itu akan menimbulkan penyakit di panen berikutnya. Daun menjadi kuning atau rontok dan masuknya ulat buah broka.

Demikian halnya ketika petani memanen terlalu dini atau petik hijau. Hal tersebut bisa merusak pohon kopi. Saat kopi dipetik dalam kondisi belum matang, tangkainya cenderung turut terpetik. Menurut penelitian yang dilakukan Klasik Beans, salah petik bisa mengganggu pembungaan dan pembuahan di musim mendatang.

“Tangkai tersebut ibarat rahim, ketika buah belum matang dan tangkainya terpetik, maka itu akan mencabut rahimnya untuk musim panen berikutnya dan, petani akan kehilangan panennya selama satu musim untuk membentuk tangkai yang baru. Selain itu, panen dini sangat berpengaruh terhadap usia pohon. Daun rontok dan kering adalah dampak dari manajemen panen yang belum saatnya,” tambahnya.

Selain itu, Klasik beans juga menyampaikan kepada para penyuplai yang memiliki mesin pulper, untuk menjaga kebersihan mesinnya agar awet dan kualitas kopinya juga terjaga. Saat melakukan pencucian, biji kopi yang mengambang dibuang dan, biji kopi yang tenggelam dicuci hingga lendirnya hilang. Dalam pengeringan biji kopi, Klasik Beans menggunakan green house dengan alas bambu yang terdapat shade pada bagian atasnya.

“Apa pun teknik pengolahan pasca-panen yang digunakan, yang utama adalah memastikan bahwa biji kopi bersih dari lendir. Kemudian baru dikeringkan. Setelah empat hari, biji kopi yang telah kering dipindahkan ke lantai seng atau batu bata yang terdapat green house pada bagian atas, agar kulit gabah tidak pecah. Karena ketika kulit kopi gabah atau parchment pecah, maka terdapat unsur atau aroma dari biji kopi yang terbuang.,” terangnya.

Mengembalikan Fungsi Hutan dengan Kopi

Salah satu misi yang diusung Klasik Beans adalah menjelaskan bahwa kopi yang ada di Jawa Barat, hampir 90%-nya merupakan kopi yang dikelola oleh departemen kehutanan melalui Perum Perhutani. Untuk itu koperasi Klasik Beans diisi oleh orang-orang dari kehutanan. Mereka melihat di Jawa Barat hutan telah begitu rusak. Hutan sudah dijarah oleh penduduk sekitar untuk menanam sayuran dan kayunya pun telah dijual. Untuk itulah mereka mencoba mengembalikan fungsi hutan dengan menanam kopi.

“Tujuan dari awal adalah membina petani,supaya petani bisa menghasilkan kualitas kopi yang bagus. Hubungannya dengan harga, dengan kualitas yang bagus maka harga akan tinggi, dengan demikian petani juga bergairah menghasilkan kopi dengan kualitas baik. Selain itu Klasik Beans bertujuan untuk menyelamatkan hutan yang ada di Jawa Barat,” terang Hamzah. “Bagaimana caranya? Pohon kopi membutuhkan sinar matahari 30-40% untuk fotosintesis, pembungaan dan pembuahan. Di sana ideologi kita masuk untuk dapat menanam pohon sebagai konservasi sekaligus sebagai penghijauan kembali”, tambahnya.

Jerih payah yang dilakukan Klasik Beans tidaklah sia-sia. Dari upaya yang mereka lakukan, mereka mampu mengubah petani kopi yang tadinya menghasilkan kopi asalan, menjadi penghasil biji kopi spesialti. Dengan kualitas inilah Klasik Beans mampu membawa kopi dari daratan Sunda menuju ratusan kafe di Amerika dan negara-negara di Benua Biru.

1383675_744061188952624_77233179_n
PHOTO/AtAmerica

“Biasanya saat usai pohon dua tahun, para petani mulai belajar panen 1-2 ons per pohon. Saat ini dalam usia yang sama, petani bisa menghasilkan 1-2 kg per pohonnya. Ini adalah kabar gembira, petani bisa memperbaiki konsep budidaya penanaman kopinya untuk mrnghasilkan kopi lebih optimal”, jelasnya.

Sampai saat ini, Klasik Beans telah membuat kebun-kebun demplot milik mereka sendiri. Mereka mengelola perkebunan organik seluas 40 hektar di Gunung Kuntang, Bandung Selatan. Tempat ini sering dijadikan observasi bagi para petani kopi dalam mengembangkan perkebunan kopinya. Selain di Jawa Barat, Klasik Beans juga memiliki beberapa shelter di Sumatra dan di desa Lambean serta desa Gunung Bau di Bali untuk kopi Kintamani.

Untuk kesejahteran para petani kopi, Klasik Beans juga mendirikan perpustakaan sebagai tempat untuk membina anak-anak mereka. Di sana, anak-anak petani belajar membaca buku, bahasa inggris, dan mulai mengenal kopi dan manfaatnya lebih jauh.[]

(Redaksi)