Tanpa terasa sudah tujuh belas (17) Forum Komunikasi Kehutanan masyarakat (FKKM) berkiprah di Indonesia. Selama 17 tahun tahun FKKM yang merupakan lembaga multi pihak tersebut tidak pernah lelah mendorong pengakuan dan penguatan hak-hak masyarakat dalam pengelolahan hutan. Memang inisiatif-inisiatif yang mendukung ke arah Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat atau Community Based Forest Management (CBFM) telah berkembang hampir diseluruh wilayah Indonesia. Masyarakat adat khususnya yang tinggal di sekitar dan lingkungan hutan tidak dapat dipisahkan mereka satu kesatuan yang bisa hidup berdampingan.

Selama 17 tahun tersebut terjadi banyak dinamika pada FKKM baik dinamika internal maupun dinamika ekternal, tetapi hal itu tidak pernah menjadi pelemah semanggat juang dari kawan-kawan FKKM baik yang ada di Seknas maupun Faswil. Karena semua menyadari bahwa FKKM merupakan forum multi pihak.

Memanfaatkan moment ulang tahun ke 17 Seknas FKKM mengelar kegiatan refleksi Kehutanan Masyarakat, FKKM dan Kehutanan Indonesia bertempat di IPB International Conventional Center (IICC) Rabu 24 September 2014. FKKM dalam kegiatan refleksi tersebut mengundang seluruh pengurus FKKM, rekan, kerabat dan mitra FKKM

Andri Santosa, Seknas FKKM pada kesempatan tersebut mengucapan terimakasih terhadap para pengurus, rekan, kerabat dan mitra FKKM yang sudah menyempatkan hadir pada kegiatan refleksi. Andri Santosa berharap pada yang hadir untuk memberikan refleksi selama 17 tahun FKKM di samping itu Seknas FKKM tersebut juga mengharapkan peserta refleksi untuk memberikan masukan-masukan bagi FKKM, sehingga FKKM benar-benar menjadi forum multipihak dan menjadi solusi bagi setiap masalah yang berhubungan dengan kehutanan khususnya dalam mendorong gerakan Kehutanan Masyarakat

Sementara itu Dian yang merupakan Wakil Koordinator Pengurus Nasional FKKM dalam kata sambutannya mengatakan kegiatan refeksi merupakan suatu moment untuk mengkritisi tentang kelembagaan, program dan hal-hal yang berkaitan dengan FKKM. Meski acara refleksi FKKM terlihat sederhana, hal itu menurutnya tidak tertutup bagi para undangan untuk menyampaikan masukan. FKKM merupakan forum multipihak yang sudah di inisiasi bersama pada 17 tahun lalu dan harus tetap eksis. Dian perempuan cantik nan angun itu juga mengajak para peserta refleksi untuk tiada berhenti mensyukuri FKKM tetap eksis dan berhasil melalui masa-masa sulit.

Dani Munggoro yang memfasilitasi refleksi FKKM mengatakan 17 tahun yang lalu dia pernah mengusulkan pembentukan FKKM, tetapi menurutnya setelah 17 tahun FKKM begini bisa jadi karena usulannya dia yang salah. Untuk menjadikan FKKM menjadi forum multipihak, maka diperlukan kritikan dan masukan sehingga FKKM bisa menjadi forum yang ideal bagi multipihak yang sudah menjadi bagian dari FKKM.

Dalam rentang waktu sekitar tiga jam Dani berhasil mengajak seluruh beserta memberikan berbagai kritikan yang membangun, usulan-usulan. Bahkan forum refleksi tersebut juga sempat menjadi ajang nostalgia bagi peserta yang sudah lama bergabung dan kenal FKKM sehingga suasana begitu cair dan mengalir meski sebenarnya saat itu sedang terjadi pembicaraan yang begitu penting tentang FKKM kedepan.

Salah seorang peserta Erna Rosiana yang berasal dari pemerintahan (Kementrian Kehutanan) dan sudah mengenal FKKM sebelum FKKM itu sendiri lahir serta punya kesan yang selalu di ingatnya. Kejadian yang tidak pernah terlupakan oleh Erna Rosiana saat ada pertemuan di Madiun, hampir semua peserta yang hadir menyerang dia, tetapi saat itu Ford Foundation (Jeff Cambell) dan masyarakat adat yang hadir di pertemuan itu membela dia.

“Saat itu saya terkesan ada masyarakat adat yang merobek draf UU tetapi malah memuji-muji salah satu PP”,ujar Erna bersemangat. FKKM menurut Erna adalah sebuah forum yang harus tetap di pertahankan, dapat menjadi pusat informasi bagi multipihak dan menjadi solusi bagi masyarakat yang punya konflik khususnya pada kasus kehutanan masyarakat.

Salah seorang peserta dari daerah mengaku FKKM begitu dekat dengannya. Bahkan kantornya juga di ‘rampok’ oleh Natsir salah seorang Faswil FKKM. Kantornya yang di ‘rampok’ FKKM tersebut begitu aktif dan selalu ada saja isu-isu yang dibicarakan khususnya tentang kehutanan masyarakat. Diskusi-diskusi itu ikuti oleh stakeholder mulai dari masyarakat yang tinggal dalam lingkungan hutan, anggota dewan, LSM, bahkan wartawan. Saat dia pindah ke Manado juga ketemu FKKM tapi saat di pindah ke Padang dengan nada kecewa tidak ketemu FKKM karena belum ada FKKM setelah melalui lika liku bersama FKKM tahun 2012 lalu bertemu dengan Andri Santosa Seknas forum multipihak tesebut.

Udi Prastono yang baru pertamakali di forum dan kenal FKKM beberapa tahun lalu

dalam penyusunan SKKNI dan pemberdayaan masyarakat. FKKM sangat strategis karena ada sekarang ada KPH – Kesatuan Pengelola Hutan. KPH potensional untuk mengawinkan antara mitra dengan masyarakat. Masyarakat dengan hutan sebenarnya bisa selaras dan berdampingan, yang perlu di rubah adalah perambah menjadi HTR dengan mengubah mereka, maka akan menjadi pengelola hutan yang baik. Mengelola hutan sebenarnya mngelola ekosistem, selama masyarakat tidak merusak eosistem bisa dalam hutan. UU 41 Tahun 1999 sebenarnya memberikan jaminan masyarakat untuk hidup dalam lingkungan hutan dan lebih berpartisipasi tetapi dalam perkembangan justru banyak perusahaan yang berpartisipasi.

Peserta lainnya berharap FKKM lebih aktif dalam pengelolahan hutan khususnya yang terkait dengan agraria, agar FKKM menjadi forum yang mewadahi masalah kehutanan dan sumber informasi multipihak yang membutuhkan informasi seputar kehutanan dan kehutanan masyarakat. Kedepan FKKM harus bisa mengaet dan mengajak yang muda-muda agar gerakannya lebih dinamis.

Para peserta mempunyai berbagai pengalaman terindah, berkesan dan berbeda dengan FKKM diantaranya Dian yang sudah menjadikan FKKM menjadi sahabat terbaik dan sudah kenal FKKM sejak Muayat Ali Mushi sampai Andri Santosa yang menjadi Seknasnya. Hal itu yang mendorong wanita cantik ini datang pada kegiatan refleksi 17 tahun FKKM.

Tim FKKM baik Seknas maupun Wilayah menurut para peserta sudah secara independent mewadahi pelaku kegiatan sehingga FKKM sangat istimewa untuk itu FKKM harus pro aktif sama-sama pihak yang mengusung isu yang sama. Ada banyak kebersamaan antara peserta refleksi dengan FKKM diantaranya training workshop kehutanan masyarakat, perubahan iklim dan kewirausahaan di Sulawesi Selatan, Jogya dan NTB, di samping itu pelatihan jurnalistik tentang lingkungan kerjasama dengan AJI Sulteng juga memberikan kontribusi bagi FKKM.

Dalam kegiatan refleksi tersebut para peserta juga mencoba merumuskan idealnya FKKM kedepan diantaranya FKKM selaku forum multi pihak harus terlibat secara aktif dalam menyelesaikan konflik khususnya yang terkait dengan kehutanan dan lingkungan. Agar konflik-konflik yang terjadi dalam pengelolaan SDA dapat terselesaikan serta penyelesainnya benar-benar berpihak pada masyarakat.

Berbicara mengenai program FKKM selaku forum yang konsen terhadap isu-isu kehutanan harus lebih aktif dan membuat program-program yang benar-benar dibutuhkan oleh multi pihak, sehingga kehadiran FKKM menjadi solusi bagi para pihak yang bertikai dalam hutan kemasyarakatan

Sementara itu meski sudah berumur 17 tahun dan sudah melakukan berbagai manuver tetapi sosok FKKM tetap mendapat kritikan membangun dari para peserta. Kritikan-kritikan tersebut diantaranya FKKM harus lebih gencar melakukan publikasi terhadap program-program dan kerja-kerja yang dilakukan dalam kehutanan kemasyarakatan. Banyak media publikasi yang dapat di gunakan seperti millis, facebook, web dan media cetak, serta radio, sehingga program dan kegiatan FKKM familiar bagi multi pihak yang begabung serta faswil-faswil yang ada di provinsi.

-ds-