Konflik manusia dan satwa liar meningkat sejak lima tahun terakhir. Data Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Kementerian Kehutanan pada pertengahan 2014, menyebutkan telah terjadi 395 kasus konflik antara manusia dan harimau sumatera di sembilan provinsi pulau tersebut. Angka konflik tertinggi di Nangroe Aceh Darussalam sebanyak 106 Kasus, 83 kasus di Bengkulu, Jambi 70 Kasus, Lampung 47 Kasus, Sumbar 36 kasus, Riau 26 Kasus, Ulu Masan Aceh 15 kasus , Sumatera Utara 11 kasus dan Sumatera Selatan 2 kasus (Vivanews, Kamis 12 Juni 2014).

World Wildlife Fund (WWF) Indonesia wilayah Riau menyatakan 38 Gajah Sumatera mati selama dua tahun terakhir. Bangkainya ditemukan di dalam kawasan HTI (Views, 30/11).

Konflik ini selalu dimenangkan manusia. Terbukti, setiap satwa liar memasuki pemukiman atau merusak tanaman akan berakhir dengan kematian. Satwa liar bahkan mati mengenaskan akibat diracun, ditembak dan disengat listrik.

Persoalan habitat teridentifikasi sebagai penyebab utama konflik. Hutan sebagai habitat satwa liar seringkali bersinggungan bahkan tumpang tindih dengan areal pemukiman, perkebunan dan pertanian. Kebakaran dan perambahan kawasan hutan menambah potensi konflik manusia dan satwa liar.

Indonesia memiliki peraturan menteri kehutanan No. 48/2008 sebagai pedoman untuk menanggulangi konflik satwa liar dan manusia. Namun belum juga mengurangi konflik tersebut. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengakui penegakan hukum masih sangat kurang selain regulasinya juga lemah.

Upaya penyelamatan tak hanya di daerah konflik, kampanye penyelamatan satwa liar seperti dilakukan WWF bersama Indosat untuk perlindungan gajah (Antara, Minggu 9/11) Konflik tentu perlu didamaikan; pemerintah, swasta bersama masyarakat telah melakukan upayanya. Apakah anda ikut terlibat upaya damai atau malah berkonflik?