Bukan hal baru dan aneh bila berbicara mengenai kebakaran hutan dan areal yang melanda Indonesia dan merebak menjadi isu nasional sejak Juli Lalu. Korban Jiwa terus berjatuhan sebagai akibat terganggunya saluran pernafasaan, kebanyakan korban ini merenggut nyawa anak usia 1 sampai 10 tahun.

Beberapa ahli berpendapat bahwa penyebab kebakaran dan kabut asap ini bersumber dari pembukaan lahan dengan cara pembakaran yang dianggap paling sederhana dan menguntungkan bagi masyarakat, dan beberapa korporasi besar.

“membakar lahan adalah cara yang paling mudah, cepat, hemat tenaga, dan biaya”

Untuk itulah, maka Komunitas Psikologi UI, dan Fakultas Hukum Universitas Indonesia berusaha untuk mengupasnyadalam sebuah seminar sehari bertajuk “KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN: Upaya Pemanfaatan Lahan yang Sederhana, berujung pada Bencana Buatan Manusia” yang dilaksanakan pada Jum’at 30 November 2015, bertempat di Ruang Auditorium Lt 4. Gedung H. Fakultas Psikologi – Universitas Indonesia.

Pada sesi pertama, Andri G. Wibisana (Pengajar, Fakultas Hukum UI) mencoba mengangkat Pencarian Model Hukum Ideal bagi para pembakar hutan dan lahan, diikuti oleh penyajian Aspek Hukum Transboundary Pollution oleh La Ode Muhammad Syarief (Calon pimpinan KPK). Sesi ini ditutup dengan mengangkat Upaya Kebijakan Mitigasi kebakaran hutan dan lahan dalam menuntaskan persoalan, yang akan disampaikan oleh Dodik Ridho Nurrokhmat (Pengajar, Fakultas Kehutanan IPB).

Sesi kedua lebih membahas perspektif antropologis ekologi politik yang disampaikan antropolog UI, Suraya Afiff. dan ditutup oleh topik Upaya Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan berbasis komunitas dan kearifan lokal, yang dikemukakan oleh Taryono Darusman.

Setidaknya seminar ini mencoba mencari solusi dari musibah yang tengah melanda di negeri ini.