Secara formal, inisiatif konservasi berbasis komunitas bermula pada era 1980-an sebagai jawaban atas gerakan konservasi sebelumnya yang digalang oleh upaya-upaya Internasional untuk melindungi keanekaragaman hayati dunia, tetapi mengabaikan kepentingan masyarakat lokal di dalam kawasan konservasi. Vicky Forgie, Peter Horsley, Jane Johnston, penulis beberapa buku konservasi berbasis komunitas di New Zealand memaparkan inisiatif ini sebagai berikut:

Community-based conservation initiatives (CBCIs) are bottom-up (or grass-root) activities that bring individuals and organizations together to work towards achieving desired environmental goals. These initiatives are fueled by a community force that is exerting pressure on government agencies in many parts of the world (Forgie, Horsley, Johnston, 2001)

Masyarakat Sinduru merupakan penduduk asli yang berdiam di dataran tinggi Sulawesi Tengah dan menyebar di sejumlah wilayah. Jauh sebelum penunjukan kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) tahun 1983 melalui SK Menteri Pertanian No 736/Mentan/X/1982 dan penetapannya melalui SK Menteri Kehutanan RI No 593/Kpts-II/1993 (Sangaji, et all, 2004), Masyarakat Sinduru sudah memiliki konsep tata ruang dan tata kelolah hutan, yang ditaati secara turun-temurun yang dapat dijabarkan secara singkat, yaitu:

Pohambei Pongko adalah kawasan hutan bekas kebun yang diistrahatkan selama sepuluh tahun. Diameter pohon berukuran dua atau tiga kali lingkaran tangan orang dewasa.
Pangale adalah kawasan bekas kebun yang diistrahatkan lebih dari sepuluh tahun (sekitar 50 tahun) atau hutan yang belum pernah dijamah manusia (hutan belantara). Juga bisa dimanfaatkan sebagai daerah penggembalaan ternak.
Wanangkiki merupakan kawasan hutan belantara dan belum pernah dijamah manusia. Hutan ini terletak di atas Pangale, biasanya merupakan pal batas antar Ngata (wilayah adat). Pohon-pohon yang tumbuh tergolong kecil dan dipenuhi tumbuhan lumut. Kayu Damar merupakan jenis dominan yang dapat ditemui di sini. Wanangkiki termasuk areal penyimpan cadangan air serta tidak dapat dikelola, sehingga tidak bisa dibuka sebagai tempat pemukiman atau kebun.
Wana yaitu hutan kelola masyarakat. Di kawasan ini masyarakat hanya diperbolehkan mengambil hasil-hasil hutan seperti rotan, damar serta daerah perburuan (marena).
Taolo merupakan kawasan hutan (termasuk areal perkebunan) yang secara geografis terletak di kemiringan tertentu dan/atau berdekatan dengan sumber mata air. Kegiatan pengelolaan dilarang keras di kawasan Taolo sebab masyarakat sinduru meyakini akan adanya tulah, seperti bencana longsor atau akan mengurangi kemampuan hutan sebagai tempat penyimpan cadangan air.
Balingkea merupakan areal kebun yang diistrahatkan selama lima tahun. Bertujuan untuk memulihkan kembali kesuburan tanah. Ciri kawasan ini adalah ditumbuhi dengan semak ilalang.
Oma adalah bekas kebun yang ditinggalkan selama kurun waktu 2-3 tahun. Diameter pohon yang tumbuh tidak lebih dari satu lingkar tangan orang dewasa
Sumber: Dahniar Andriani, 2007

Dan, selama 25 kebelakang, ruang hidup masyarakat Sinduru tidak diakui negara. Payung hukum untuk menaungi keberlanjutan hidup mereka seakan sirna. Sinduru masih menjadi bagian dari 48,8 Juta Masyarakat yang Tinggal di dalam dan sekitar kawasan konservasi.

Masyarakat Sinduru berharap, Revisi terhadap Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekosistemnya segera terwujud dengan memberi mereka kesempatan yang lebih besar dalam mengelola ruang hidupnya secara lestari

Catatan: Untuk melihat lebih lengkap tentang Potret Konservasi di Indonesia, lihat Santosa, A. (Ed) 2008. Konservasi Indonesia, Sebuah Potret Pengeloaan & Kebijakan