Seminar di kementerian kehutanan ini dihadiri ratusan peserta dari berbagai daerah, dari universitas, organisasi nasional maupun internasional. Beberapa pemakalah yang menyajikan hasil risetnya. Budiman achmad dari Balai Penelitian Teknologi Agroforestry Ciamis, menyajikan makalah berjudul alat sidik cepat pohon penyerap karbon. Konsep kerja alat sidik cepat di dasarkan pada konsep pertumbuhan tanaman hutan, lambat dan cepat. Dijelaskan juga cara untuk menduga karbon yang tersimpan dalam pohon. sebagian besar jenis yang ditampilkan dalam alat, telah diketahui alometriknya untuk menaksir secara cepat dan mudah. Namun baru sebagian saja yang sudah tersedia pita karbonnya.
Mega Lugina memaparkan makalah berjudul Database stok karbon untuk faktor emisi/faktor serapan berbasis web. Untuk mengetahui stok karbon, dibutuhkan Sistem MRV Nasional/Sub Nasional yang mengkombinasikan citra satelit dengan data inventori lapangan dari petak ukur permanen. Citra satelit digunakan untuk mengetahui tutupan hutan dan inventori lapangan untuk memperoleh data biomassa. Petak ukur permanen dan database biomasa ini bertujuan untuk membangun sistem pemantauan karbon hutan di tingkat provinsi, dan mengintegrasikannya ke dalam basis data. Berguna untuk mengisi gap antara sistem pemantauan hutan nasional dan database karbon hutan di provinsi. Tantangannya adalah pembaruan data di masing-masing lokasi petak ukur dan pemeliharaannya. Pemeliharaan database dan integrasi database stok karbon menggunakan perangkat ukur carbon accounting, dilakukan oleh Puspijak.
Dr. Sahrul muttaqin memaparkan makalah berjudul pelibatan masyarakat lokal secara efektif dalam implementasi REDD+ di indonesia wilayah timur. Ini merupakan hasil diskusi bersama forum terkait keseriusan REDD+ ditingkat nasional. Pelaksanaan REDD+ berjalan lambat karena belum sepenuhnya terjalin sinergitas antar lembaga untuk menyukseskan program REDD+, akibatnya beberapa daerah masih ditemukan deforestasi maupun degradasi lahan/hutan khususnya di wilayah timur. Ini dipicu pemahaman pembangunan yang keliru. Sebagai contoh pembangunan menggunakan perspektif siapa? Perbedaan Perspektif (Perbedaan memandang dan dipandang) antara Pemerintah dan Masyarakat Papua menyebabkan “pembangunan” tidak bisa efektif dimanfaatkan masyarakat. Indonesia adalah negara yang sangat potensial untuk perubahan iklim, meskipun pelaksanaan REDD+ tidak wajib bagi Indonesia namun ada insentif berupa kegiatan pelatihan masyarakat dan lain sebagainya. Regulasi yang mengatur REDD+ masih berbentuk peraturan presiden (Perpres). Pelaksanaan REDD+ harus dituangkan dalam Rencana Aksi Daerah (RAD) yang diwajibkan bagi tiap provinsi untuk mengukur setiap emisi karbon yang ada di daerahnya masing-masing.
Fadil Sudrajat, kepala KPH Sulawesi Tenggara mengemukakan bahwa di wilayahnya masih terdapat konflik masyarakat lokal. Diharapkan pelibatan masyarakat dalam persiapan dan implementasi REDD+. Agar tidak salah arah, perlu diberikan pedoman perlindungan masyarakat. Harapannya adalah agar peneliti-peneliti pusat bisa datang melakukan penelitian di KPH Sulawesi Tenggara.
Dr. Sahrul muttaqin mengemukakan bahwa dana proyek percobaan dana karbon yang tersedia sekitar $ 50.000. Dana karbon tidak menutup masuknya proyek lain, namun perlu penghitungan berbasis kinerja, maksudnya “kerja dulu baru ada hasilnya”. Artinya hanya dilihat dari hasil akhirnya dan akan dibayar oleh dana karbon. Lebih lanjut juga dijelaskan tentang manfaat ikutan yang sangat penting dalam tema perubahan iklim, dan adaptasi resiko bencana terkait perubahan iklim. Oleh karena itu manfaat ikutan ini tetap menjadi persyaratan untuk pengelolaan hutan.