Subang, Warta FKKM. 4 (Empat) kelompok tani dari dua Nagari sepakat untuk mendirikan fasilitas reaktor Biogas dengan kapasitas total 50 meter kubik dalam upaya pemenuhan kebutuhan energi masyarakat. Nagari Padang Limau Sundai diwakili oleh kelompok tani Fajar Harapan, sementara Nagari Lubuk Gadang diwakili oleh Kelompok Tani, Umbul Mulyo, Sinar Jaya, Karya Muda menyatakan bahwa kesulitan mereka dalam melakukan produksi hasil pertanian dan perkebunan lebih kepada keterbatasan untuk memperoleh energi. Selain itu makin tingginya harga pupuk di pasar, dan bantuan pupuk tidak mampu membuat kelompok tani mengupayakan lahannya secarta maksimal dengan komoditas pertanian. Beruntung melalui program pelatihan mengenai Biogas dan Bioslurry yang dilakukan bersama Konsorsium Wanakita, mereka memperoleh sebuah pengetahuan baru tentang peluang dan upaya menyediakan sumber energi dalam bentuk Biogas dan Bioslurry.

Seperti diketahui, Terbentuk pada proses penguraian biomassa secara anaerob (tanpa oksigen) yang kandungannya terdiri dari 60% metana (CH4), 40% karbondioksida (CO2) dan gas lain dalam jumlah kecil (nitrogen, hidrogen & hidrogen sulfida). Sebagian besar kandungan biogas merupakan metana menyebabkan biogas dapat dibakar dan dapat berfungsi sebagai bahan bakar. Sedangkan Slurry keluaran dari biogas merupakan pupuk yang bagus bagi daun dan batang tanaman. Secara alami sumber energi untuk biogas didapat dari, serasah, bahan organik yang terdapat di rawa, tampungan kotoran (Septic Tank), atau biomassa.

Setelah melalui pelatihan dan bimbingan teknis mengenai Biogas dan Bioslurry yang dilaksanakan pada 20 – 24 Oktober 2016 di Subang, keempat Kelompok tani tersebut berkomitmen untuk menerapkan pengadaan energi terbarukan dengan metode Biogas di wilayah kelola mereka. komitmen ini dilakukan mulai dari pembentukan kelembagaan pengelola, sampai kepada hal teknis seperti penyiapan dan pengadaan kandang yang layak bagi hewan ternak, pengadaan pakan ternak, penanganan dan pencegahan penyakit ternak. Penyiapan lahan untuk pembangunan fasilitas Biogas dan pemeliharaannya secara berkala.

Limbah Kotoran ternak, dan sisa Panen Palawija merupakan sumber energi Biogas dan Bioslurry

Limbah Kotoran ternak, dan sisa Panen Palawija merupakan sumber energi Biogas dan Bioslurry


Diharapkan dengan adanya pemenuhan kebutuhan energi, masyarakat mampu berdaya dan memperoleh peningkatan ekonomi sehingga dapat berimbas pada praktik pengelolaan hutan yang lestari. Hal ini sejalan dengan cita-cita yang ingin dicapai dalam konsorsium Wanakita, dalam upaya menurunkan emisi gas rumah kaca dengan meningkatkan praktik penggunaan lahan dan pengelolaan sumber daya alam dengan pola agroforest dan agrosilvopasture sebagai salah satu pengembangan energi terbarukan melalui pengembangan model yang inovatif dan holistik.