Pesisir Selatan, Warta FKKM. Konsorsium Wanakita yang diketuai Arif Aliadi (LATIN) berkomitmen untuk terus mendorong percepatan perhutanan sosial di Pesisir Selatan, hal ini dilakukan dalam memfasilitasi sebuah diskusi singkat mengenai Program Mendorong PHBM yang dilaksanakan pada 25 Oktober 2016 di kantor BAPPEDA Kabupaten Pesisir Selatan menghasilkan beberapa masukan yang menarik. Dinas Kehutanan Kab. Pesisir Selatan menyatakan bahwa Nagari Puluik Puluik dan Koto Ranah berada di antara kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan kawasan Suaka Alam/Kawasan Pelestarian Alam (KSA/KPA). Kedua kawasan ini termasuk dalam kawasan konservasi. Skema PHBM seperti HKm, Hutan Desa/Hutan Nagari dan HTR tidak bisa diterapkan di kawasan konservasi. Yang bisa diterapkan adalah skema kemitraan.

Pertemuan tim Wanakita dengan Bappeda Kabupaten Pesisir Selatan

Pertemuan tim Wanakita dengan Bappeda Kabupaten Pesisir Selatan

Namun, faktanya di lapangan ditemukan sebagian masyarakat belum memperoleh kejelasan dimana batas kawasan TNKS dan batas kawasan KSA/KPA. Sementara itu ada sebagian masyarakat yang membangun kebun campuran (agroforest) di kawasan yang diduga termasuk kawasans TNKS atau KSA/KPA. Tanpa adanya kejelasan batas kawasan maka sebenarnya skema kemitraan belum tentu bisa digunakan, karena bisa saja agroforest masyarakat belum termasuk ke dalam kawasan TNKS atau KSA/KPA. Kalau ini yang terjadi maka lokasi agroforest masyarakat kemungkinan besar terletak di kawasan APL (Areal Penggunaan Lain), yang merupakan kawasan di luar kawasan hutan negara). Artinya, masyarakat boleh langsung mengelola tanpa perlu mendapat ijin dari Menteri LHK. Kawasan tsb. bisa menjadi kawasan hutan rakyat atau hutan adat, dimana masyarakat lebih leluasa mengelola atau memanfaatkannya.

Oleh karena itu kejelasan kawasan yang saat ini dikelola oleh masyarakat menjadi penting. Kegiatan pemetaan partisipatif harus segera dilakukan, dilanjutkan dengan kegiatan menyusun rencana kelola kawasan. diharapkan pemetaan partisipatif ini juga menjadi jalan keluar untuk menghindari konflik yang mungkin bisa terjadi. (SB/el)