Wisata Solok Selatan kini tumbuh seiring dengan promosi yang gencar. Media arus utama dan media sosial tak henti menyuarakan agar orang tertarik datang. Mulai dari wisata kebun teh, kawasan Karst, air terjun, arung sungai, hingga wisata mendaki gunung. Solok Selatan berbenah cepat, masyarakatpun antusias. Tapi justru banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Deru air terdengar dari jauh, padahal lokasi yang dituju masih harus melewati dua punggungan bukit lagi. Jalan tanah baru saja dibuka dua bulan yang lalu, mempermudah akses pengunjung mendatangi Aia Manyuruak (hidden water).

Dari pusat Nagari Lubuak Gadang Selatan, Kecamatan Sangir di Solok Selatan, Sumatera Barat, sedianya Aia Manyuruak merupakan tujuan para pemancing. Mereka biasanya datang memancing ikan gariang. Ikan ini memiliki nama lain seperti ikan semah, di kalangan para pemacing kerap juga dinamai ikan masheer. Ikan dari family Cyprinidae ini digemari karena ukuran tubuhnya yang besar dan tingkat kesulitannya saat dipancing.

Dulu para pemancing datang melewati parak (kebun campur/agroforest) kopi dan karet. Sekarang akses sudah agak baik dengan dibukanya jalan,” kata Dewi (13/1).

Tapi, lanjutnya, jalan saja tentu tidak cukup. Wisata Aia Manyuruak membutuhkan rencana pengelolaan jangka panjang dan dukungan pembangunan fisik tentunya.

Satu punggungan bukit lagi, Dewi akan sampai di lokasi yang dituju. Dia menyeka keringat di sela kerudungnya. Anggota kelompok sadar wisata Nagari Lubuak Gadang Selatan ini tengah dalam perjalanan meninjau lokasi bersama ibunya, Kasni.

Dari ketinggian, hamparan bebatuan kapur tampak membentang. Dewi memandang ke bawah dengan senyum. Inilah Aia Manyuruak, sebuah sungai yang jatuh cantik melewati tumpukan batu besar. Dasar sungai terlihat begitu jelas karena airnya bening. Beberapa ekor burung terkesiap terbang menjauh saat Dewi dan ibunya tiba di lokasi.

Beberapa orang anggota kelompok sadar wisata sudah ada di sana. Mereka mengatur letak batu alam dalam susunan yang apik. Sebagian lagi ada yang tengah memungut sampah. Ada juga yang sedang membersihkan rerumputan yang tumbuh liar dan menganggu.

Dewi dan ibunya meminta maaf atas keterlambatannya. Walau hari ini bukanlah hari yang ditentukan untuk bergotong royong, tapi kelompok ini tampak bersemangat karena dalam waktu dekat akan dilanjutkan pembangunan jalan menuju lokasi.

Jadwal yang kami susun mestinya gotong royong diadakan dua minggu sekali. Ini pekerjaan sukarela saja,” kata Dewi.

Dia meninjau puntu goa di mana air keluar. Melewati penurunan batu yang cukup terjal, Dewi dibantu anggota kelompoknya. Tak lama, kakinya sudah mencecah air, ia masuk ke dalam goa ditemani penerangan dari lampu yang tersangkut di kepalanya.

inilah goa Aia Manyuruak,” katanya begitu menyisir tepian lorong di dalam goa.
Goa Aia Manyuruak

Bebatuan licin membuat Dewi harus ekstra hati-hati. Dia berpegangan pada batu yang menonjol sementara kakinya harus mencari-cari tempat pijakan yang stabil. Dia juga harus memerhatikan kepala agar tidak terbentur dinding goa.

Suasana gelap dan gemuruh air membuatnya tak banyak bersuara. Dua orang anggota kelompok sudah berada sepuluh hingga lima belas meter di depan. Dewi meminta mereka untuk menunggu supaya perjalanan tidak menyisakan bahaya.

Lokasi pemancingan berada tepat di dalam goa ini. Berteman bau pesing dari kotoran kelelawar, para pemancing seakan menemukan kenikmatan tersendiri bila sudah berada di dalam goa,” papar Dewi tersenyum.

Sejatinya, Aia Manyuruak adalah sebuah hulu sungai berlatar air terjun dan goa di kawasan karst. Di belakang punggung perbukitan, ciri unik kawasan karst terlihat jelas dengan puncak kerucut yang tajam. Tanaman hutan berselingan dengan kebun kopi dan karet warga. Air dari hulu itu lantas menyatu dengan Sungai Batang Sangir di hilir.

Pemerintah Kabupaten Solok Selatan sesungguhnya tidak memasukkan Aia Manyuruak ke dalam destinasi andalannya. Justru yang menjadi prioritas adalah Air Terjun Tangsi Ampek, Kawasan Seribu Rumah Gadang, Camintoran serta Hot Waterboom.

Sepengetahuan kami, lanjut Dewi, anggaran untuk ini membangun destinasi wisata cukup besar. Tahun 2017, masing-masing 10 milliar rupiah untuk Kawasan Seribu Rumah Gadang dan Hot Waterboom. Ditambah masing-masing 5 milliar rupiah untuk Air Terjun Tangsi Ampek dan Camintoran.

Untuk Aia Manyuruak hanya 1,5 milliar,” imbuhnya.
Aia Manyuruak

Sementara untuk rencana pengelolaan dan pengembangan objek wisata, Dewi mengaku dibantu oleh Millenium Challenge Account-Indonesia (MCA-I).

MCA-I mengalokasikan anggaran untuk membuat rencana pengelolaan, termasuk membangun infrastruktur. Tapi mungkin pembangunan infastruktur tidak langsung lengkap, pembangunan kami rencanakan bertahap. Sore ini kami akan mendiskusikan hasil disain ekowisata untuk Aia Manyuruak, setelah bergotong royong di pembibitan,” papar Dewi.

Nagari Lubuk Gadang Selatan, lanjutnya merupakan sebuah nagari pemekaran yang kini memang sedang giat mengembangkan potensinya. Selain objek wisata, dikembangkan pula model pengelolaan hutan nagari berikut dengan penanaman tanaman multi guna untuk konservasi dan mendukung kesejahteraan masyarakat.

Mestinya, wisata menjadi salah satu bagian saja dalam pengembangan masyarakat di pedesaan. Kegiatan lain justru akan saling menunjang, sehingga pembangunan bisa terintegrasi antara konservasi sumber daya alam sekaligus peningkatan pendapatan keluarga,” ujarnya.

Pembibitan masyarakat Lubuak Gadang Selatan terletak tak jauh dari lokasi Aia Manyuruak. Dewi terlibat mengisi polybag dan menyusun tumpukan media tanam tersebut. Belasan ibu-ibu turut serta dalam pekerjaan tersebut. Rencananya, pohon-pohon akan ditanam di ladang masing-masing anggota kelompok perempuan ini.

Ketua Kelompok Wanita Tani Sekar Wangi, Yetti mengatakan pembibitan ini tentu akan dimanfaatkan untuk kepentigan ekowisata. Pengunjung dapat mendatangi ladang warga untuk ikut terlibat menanam, merawat bahkan panen.

Jadi wisatawan datang bukan hanya untuk menikmati goa, sungai dan pemandangan alam, mereka juga dapat terlibat membantu warga di kebunnya. Ini akan menjadi nilai tambah ekowisata di wilayah kami,” katanya.

Kelompok wanita tani yang sudah berdiri sejak 2003 ini beranggapan, pembibitan yang mereka usahakan sekarang menambah semangat anggota kelompok. Ini adalah realitas kehidupan desa yang unik dimana masing-masing kelompok, walaupun berbeda tujuannya, tapi memiliki irisan kegiatan bersama yang mempersatukan.

Ekowisata menyatukan kami. Selain ada kelompok khusus yang mengurus wisata alam Aia Manyuruak, ada pula kelompok pembibitan perempuan. Bahkan untuk menjaga agar sumber air, maka ada pula yang menjadi kelompok pengelola hutan nagari,” jelas Yetti.

Segerombolan itik mencari makan di sawah yang baru saja dipanen. Pengembala menghalau agar itik tak sampai mengganggu tanaman warga. Bentang persawahan menjanjikan panorama alam yang bewarna warni, sebagian sudah dipanen, tapi sebagian lagi masih menguning. Sementara di hulu, gugusan hutan terjaga melalui kesepakatan Hutan Nagari.
kids and Nature