Hutan Nagari merupakan daerah berhutan yang dikelola masyarakat untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Hutan ini telah menyediakan berbagai keperluan yang secara langsung dapat dinikmati masyarakat.

Kalau hutan tidak terjaga, hama babi akan merusak tanaman warga. Untungnya babi punya kehidupan sendiri di dalam hutan sehingga tak banyak menganggu. Termasuk juga hama lain. Jadi kalau hutan tetap terjaga, pertanian kami tentu tak banyak mengalami gangguang,” papar Yetti.

Di hadapan Nagari Lubuak Gadang Selatan, Gunung Kerinci menjulang sebagai pasak alam yang kokoh. Bagian kaki gunung merupakan perkebunan teh yang terhampar luas. Pucuk-pucuk teh telah menjadi harapan tersendiri bagi para pekerja harian.

Tea Lady
Sekelompok ibu-ibu pekerja perkebunan tengah memetik teh, keranjang besar tersandang dipunggung mereka. Hasil petik itu akan ditimbang menjelang siang hari. Wisatawan yang datang tentunya dapat menikmati pemandangan elok ini setiap pagi. Bahkan kalau beruntung, bisa ikut membantu bekerja memetik teh bersama kaum ibu.

Kebun teh, menjadi hamparan alam yang mengesankan. Petak-petak pengelolaan kebun yang tertata rapi, ditambah dengan kesejukan alam dan bentang pegunungan yang menawan membuat pengunjung serasa dimanjakan.

Di sela hamparan teh, berkilometer di tenggara Aia Manyuruak, dua buah sepeda motor melaju meninggalkan debu. 3 orang siswa SMAN 2 Bidar Alam, Rizki Afrianto, Hendri Kurniawan dan Hafiz Al Fikri memacu sepeda motornya melewati jalan tanah berbatu di sela perkebunan teh dibawah pengelolaan PT. Mitra Kerinci.

Setelah hampir satu setengah jam bergelut dengan jalan yang agak menanjak, mereka memarkir kendaraan. Ketiganya lantas menyisir tepi perkebunan teh hingga air terjun Tangsi Ampek tampak di kejauhan.
The River

Sebuah penurunan curam membuat mereka harus berhati-hati. Beruntung, Karena menurunan itu sudah dibeton dan diberi pegangan besi. Terjunan air memutih setinggi lebih dari 30 meter. Suasana sejuk terasa menusuk, tapi mereka terus berjalan.

Di bawah terjunan air, Rizki memulai aksi swafotonya. Aksi swafoto seperti ini lumrah dilakukan anak muda seusianya. Dia tampak sangat gembira ketika kakinya mulai terbenam air yang dingin.

Kami bangga dengan Solok Selatan karena punya alam seelok ini,” katanya membusung dada.

Menurutnya, air terjun Tangsi Ampek mulai tersohor sejak beberapa orang asal Afrika Selatan melakukan aksi kayak dari puncak terjunan air. Beberapa pejabat negara juga pernah datang ke lokasi ini.

Dari Padang, ibukota Sumatera Barat, lokasi ini hanya berjarak sekitar 150 kilometer. Puncak Gunung Kerinci, lagi-lagi mengintai di kejauhan.

Potensi ini mestinya dapat berkembang sebagai salah satu tujuan wisata alam yang menarik. Kami membantu promosi lewat akun media sosial” katanya.

Dia mengupload beberapa foto dari gawainya ke akun Instagram. Tak lupa, dia menandai beberapa akun lain yang turut mempromosikan panorama alam Solok Selatan.

Biasanya, banyak peminat yang menanyakan lewat media sosial ini. Kebanyakan mereka adalah anak muda luar daerah yang berniat datang ke solok Selatan. Kami memulai pertemanan lewat media sosial, lalu beberapa diantara mereka yang serius akan melakukan perjalanan akan mengontak untuk saling berbagi informasi,” paparnya.

Di Solok Selatan, lanjutnya, selain air terjun Tangsi Ampek, ada puluhan air terjun lain yang berpotensi dikembangkan menjadi objek wisata alam.

Kami pernah ke air terjun Timbalun di Sungai Pagu. Lokasi ini cantik karena terjunan airnya ada 7 buah. Ada juga air terjun Talang Sepintir, air terjun Ulu Suliti, air Malanca, air terjun Batang Daun, air terjun Lambe dan air terjun Palangai Gadang,” jelas Rizki.

Dia dan kedua kawannya menghabiskan waktu menjelang sore sebelum kembali pulang. “Dari pada mengerjakan hal-hal yang negatif, lebih baik kami membantu mempromosikan objek wisata di tempat kami sendiri,” pangkasnya.

Semantara itu, di sepanjang aliran sungai Batang Sangir, Robi Ali mengisahkan perjalanannya dalam sebuah patroli hutan bersama Institute Conservation Society (ICS) di pinggang Gunung Kerinci pada Mei 2016. Rombongan ini bekerjasama dengan Sekretariat Bersama Pecinta Alam Solok Selatan membuka jalur pendakian baru Gunung Kerinci melalui rute Solok Selatan. Dalam penjelajahan itu, mereka bertemu dengan lokasi dimana banyak sekali ditemui kura-kura. Rombongan ini menamakan tempat itu sebagai Lembah Kura-Kura.

Mulanya tak banyak yang tahu keberadaan lembah ini, tapi media sosial bergerak cepat. Tempat ini lantas menjadi incaran berbagai pihak untuk singgah.

Namun akhirnya disepakati, lokasi ini dikeluarkan dari jalur pendakian Gunung Kerinci. Hal ini dikonfirmasi pihak Taman Nasional Gunung Kerinci yang keberatan jika lokasi ini dimasukkan kedalam jalur pendakian.

Menurut Robi, tim ranger yang dipimpinnya menemukan lembah ini secara tidak sengaja. Tapi Robi sangat setuju dengan pihak Taman Nasional untuk memproteksi lokasi ini guna menjaga keseimbangan ekosistem.

Kalau masuk jalur pendakian, tentu akan berdampak pada konservasi,” katanya.

Jalur pendakian baru ini, lanjut Robi, lebih landai ketimbang jalur lama yang melewati Kabupaten Kerinci. Namun konsekwensinya, pendakian memakan waktu tempuh sampai tiga hari. Bagi peminat wisata khusus, hal ini tentunya menjadi sebuah tantangan baru.

Dengan dibukanya jalur ini, wisata Solok Selatan tentu akan lebih lengkap. Ditambah lagi dengan aliran sungai yang dapat digunakan untuk olah raga arus deras,” paparnya.

Direktur Eksekutif ICS, Salpa Yanri mengungkap, wisata Solok Selatan tentunya membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Tidak cukup hanya masyarakat yang bergerak sendiri seperti apa yang dilakukan Dewi di Aia Manyuruak, atau rombongan wisatawan lokal yang berkampanye lewat media sosial.

“Pemerintah mesti serius menangani ini. Wisata budaya juga sama menggeliatnya dengan wisata alam. Solok Selatan memiliki potensi nigari seribu rumah gadang, sebuah kawasan yang menghadirkan daya tarik rumah gadang sebagai simbol utama Sumatera Barat.

Di kawasan seribu rumah gadang, lanjutnya, terdapat keluarga-keluarga yang membangun rumah adat (rumah gadang) sesuai dengan keperluannya masing-masing. Beragam karakter suku tercermin langsung dengan keberadaan rumah gadangnya.

“Ini sangat mungkin dikombinasikan dengan wisata alam. Belum lagi potensi goa-goa yang terhampar sepanjang kawasan karst di Solok Selatan. Kalau pemerintah serius, mestinya ada sebuah perencanaan menyeluruh agar pengembangan wisata dapat berkontribusi pada peningkatan pendapatan daerah, sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat,” paparnya.

Menurut Yanri, rencana pengelolaan dan pengembangan objek wisata mestinya dilakukan dengan melibatkan partisipasi masyarakat. Yanri memberikan contoh objek wisata Aia Manyuruak yang kini tengah bergeliat.

Pengembangan rencana pengelolaan melibatkan masyarakat secara langsung. Bahkan dukungan pendanaan juga diberikan guna pembangunan fisik. Pembetukan kelompok sadar wisata dan berbagai pelatihan tentunya menunjang pengelolaan yang berkelanjutan. Hal ini tentunya perlu diintegrasikan dengan pengembangan masyarakat secara keseluruhan, termasuk inisiatif pengelolaan hutan nagari dan pembibitan tanaman multi guna,” paparnya.

Solok Selatan, kini menanti keterlibatan semua pihak untuk turut membantu pengembangan wisata alam yang terintegrasi. Di kejauahan, aliran sungai Batang Sangir meliuk menjadi pertanda alam supaya dikelola dengan baik. Bukan alan yang dikuras hanya untuk kepentingan kesenangan semata, tapi alam yang turut menjaga kesinambungan hidup masyarakatnya.