Bogor, 17 April 2017. Warta FKKM. Program Mendorong PHBM yang dilaksanakan oleh Konsorsium WANAKITA hanya berdurasi dari September 2016 sampai Desember 2017 dengan dukungan dari MCA-Indonesia.  Selama periode tersebut, telah terbentuk media untuk bekerjasama, saling bertukar pengetahuan, keterampilan serta pengalaman untuk membantu masyarakat di 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Solok Selatan dan Pesisir Selatan di Provinsi Sumatera barat, dan Kabupaten Kerinci di Provinsi  Jambi.  Fokus Program PHBM adalah memfasilitasi masyarakat untuk memperoleh legalitas dalam mengelola hutan melalui skema perhutanan sosial.  Kemudian, sambil memfasilitasi legalitas, maka sudah dirintis upaya untuk mengisi aspek ekonomi untuk masyarakat pengelola hutan.  Salah satu kegiatannya adalah pengembangan UMKM.

Dalam kesempatan kunjungan dan penyuluhan yang dilakukan langsung oleh Anas S. Rasmana selaku Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Bogor beserta jajarannya, bertempat di Pendopo Lembaga Alam Tropika (LATIN), di Situgede, Kota Bogor pada 17/4. Dalam sambutannya Anas menyatakan kegembiraannya atas inisiatif terbentuknya Koperasi Wanakita Indonesia.

Anas Mengingatkan, “Bangsa kita dibangun atas dasar kekeluargaan yang semua ada dalam sendi dasar Koperasi. Dengan berbadan hukum dan ijin usaha, LKM akan mendapatkan kepercayaan lebih dari masyarakat karena sudah memiliki legalitas yang kuat. Termasuk kepercayaan dari lembaga lain. Alangkah tepat langkah yang dilakukan oleh anggota Konsorsium untuk memilih Koperasi menjadi basis pertumbuhan ekonominya

Ini sudah merupakan tugas kami selaku abdi masyarakat yang memiliki visi untuk Mewujudkan Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang berkembang dan mandiri sebagai kekuatan penopang pertumbuhan ekonomi.”  Lanjut Anas

Dengan kapasitas yang dimiliki oleh WANAKITA, maka Konsorsium WANAKITA akan melakukan penguatan kapasitas pelaku ekonomi kerakyatan, pengolahan ulang produk-produk potensial, pengemasan, melakukan fasilitasi dan penguatan pemasaran.  Inilah yang kemudian mendorong para pegiat perhutanan sosial untuk mendirikan badan ekonomi kerakyatan berbentuk Koperasi Wanakita Indonesia. Koperasi Wanakita Indonesia berdiri atas dasar pemikiran luhur dalam pelestarian sumberdaya hutan dan pemberdayaan masyarakat dari produk hasil bukan kayu yang dikembangkan sesuai dengan potensi yang ada.

Saya yakin, Koperasi Wanakita bisa menjadi tulang punggung bergeraknya perekenomian dari masyarakat di sekitar hutan untuk tetap berdaya tanpa merusak hutannya. Namun harus diingat, cita-cita ini juga harus dibarengi dengan langkah konkrit untuk menjadikannya untuk diakui secara luas.” Tegas Anas. “Saya Bangga, Koperasi Wanakita memilih Kota Bogor sebagai pusat aktifitasnya, walaupun aktifitas utamanya pada saat ini berada di Sumatera. Dan harapannya akan bearkembang untuk daerah-daerah lain di Indonesia

Dalam Kesempatan yang sama, Tim Dinas Koperasi dan KUKM juga berkenan untuk melihat beberapa produk yang sudah dihasilkan oleh masyarakat dari 3 kabupaten dalam Program Wanakita. Salah satu produk andalan yang sudah dipasarkan di beberapa gerai di sekitaran Jabodetabek adalah Rendang Jamur Tiram. Produk-produk wanakita juga dapat diperoleh di Pesona Mart yang merupakan sentra pemasaran produk-produk perhutanan sosial yang dikelola oleh Direktorat Jendral Perhutanan Sosial, Kementrian Lingkungan Hidup dan kehutanan.

WhatsApp Image 2017-04-18 at 12.15.55

Catatan Penulis: LATIN (Lembaga Alam Tropika Indonesia) bersama dengan 7 NGO yaitu ICS, WALESTRA, FKKM, PKBI, LEI, YBUL dan CFES bersepakat membentuk Konsorsium WANAKITA untuk mendukung implementasi perhutanan sosial di Kabupaten Solok Selatan, Pesisir Selatan (Provinsi Sumatera Barat) dan Kabupaten Kerinci (Provinsi Jambi).  Upaya ini telah mendapat dukungan dari Millenium Challenge Account Indonesia (MCAI) mulai dari Agustus 2016 – Desember 2017.