“Hmmm,, Enak mi.. Haruuum.. “ Ujar Haji Baharudin yang akrab dipanggil pak Rudy dengan aksen Makassar yang kental, setelah mencicipi kopi dalam cangkirnya. Rupanya ia berpikir bahwa Kopi juga tak kalah enaknya dengan coklat. Sesekali ia memandangi gelas saring “Frenchpress” yang berisi kopi Arabika yang berwarna Hitam kecoklatan dengan herannya.

Teriknya matahari yang hadir bersama udara panas tak menghilangkan cita rasa kopi seko yang di minum pak Rudy dan kawan-kawannya. Rapat koordinasi yang sedang diadakan dikantor pun tidak mengganggu kenyamanan Haji Rudi untuk menikmati kopinya.

ini tanpa gula ki? Ada rasa manis asam”ujar haji Rudi.

Siang itu, kantor Konsorsium Hijau Lestari mendapatkan kunjungan dari Pengusaha Coklat ternama di Masamba, H. Baharuddin sebagai Pemilik PT. Chalodo yang sudah dikenal sebagai pengusaha coklat dari Hulu dan Hilir di Kota Masamba, Luwu Utara.

Berawal dari menjadi petani coklat di tahun 1973, beliau fokus mengembangkan pembibitan hingga pengolahan coklat di Masamba. Kini 3 Hektar kebun coklat, 1 buah pabrik pengolahan coklat dan sebuah kedai minuman coklat yang bernama “Chalodo Cafe” di depan bandara Andi Djemma masamba pun ia miliki.

Mencoba Kopi Seko rupanya menjadi pengalaman tersendiri bagi Haji Rudi, Pasalnya sudah puluhan tahun Haji Rudi sudah meninggalkan minuman berwarna hitam itu.

ini baru rasanya Kopi ki..”ujarnya.

boleh ki lihat cara menggoreng nyah?..” pintanya kepada Muhyiddin, salah seorang pemuda Seko yang telah dilatih dalam menggoreng dan menyajikan Kopi. Tanpa basa basi, Muhyiddin menunjukkan bagaimana caranya menggoreng dengan alat goreng kopi yang menyerupai knalpot motor mini dan diputar menggunakan tangannya.

ini dimana ki buatnya?…” tanya Haji Rudi kepada Muhyiddin.

Dekat sajah, tukang las..” jawabnya singkat. Alat goreng kopi sederhana yang digunakan Muhyiddin merupakan alat hasil kreasi seorang trainer kopi asal Jakarta, lalu diduplikasi oleh tukang las lokal di daerah itu.

Sepuluh menit berlalu, aroma khas “Roasted Coffe” pun mulai tercium. Sambil menuliskan kenaikan suhu dan perubahan aroma tiap menit, Muhyiddin terus memutar alat goreng Kopi sederhana itu di atas kompor dengan api sedang.

berapa itu isinya?..” tanya Haji Rudi,

tiga ratus lima puluh gram kopi seko..” jelas Muhyiddin.

Tanaman kopi di kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara didominasi dengan jenis kopi Robusta. Itulah yang menjadi keunikan tersendiri dalam citarasa Kopi Seko. Robusta yang tumbuh di Seko merupakan Robusta yang bisa tumbuh di dataran tinggi. Ditanam berdampingan dengan tanaman Kakao, membuat Kopi Seko memiliki cita rasa yang khas.

Dibutuhkan lebih dari sekedar tanaman yang unik untuk mendapatkan citarasa kopi yang baik, namun juga proses pengolahannya. Konsorsium Hijau Lestari saat ini tengah menginisiasi proses pengolahan kopi yang baik di Desa Tanamakaleang, Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara. Mulai dari pelatihan pemetikan, pemilihan buah kopi hingga proses penjemuran biji kopi. Setelah menerima pelatihan intens mengenai pengolahan kopi, diharapkan Desa Tanamakaleang dapat menghasilkan biji kopi dengan kualitas yang baik.

Kalau begini rasa kopinya, saya mau angkat ki kopi seko” ujarnya mantab setelah mencicipi secangkir Kopi hasil gorengan Muhyiddin. Memang, rasa kopi Seko yang telah melalui proses yang baik selalu memajakan para penikmatnya..

Nanti saya sediakan ki tempatnya di Chalodo Cafe, nanti kita sama-sama bermitra di Chalodo dengan Kopi Seko” Ujar H. Rudi.

Penguatan dan Pengembangan Pengolahan Kopi Seko merupakan salah satu fokus kegiatan yang didorong oleh Konsorsium Hijau Lestari (KHL). Konsorsium ini merupakan gabungan dari 7 NGO, dimana LEI bekerja bersama  LATIN, YBUL, YKMI (FKKM), KPAM, AMAN TL, dan Wallacea mendapat dukungan dari (Millenium Challenge Account) MCA-Indonesia hingga Desember 2017. MCA-Indonesia berkomitmen untuk mendukung target nasional untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dan mendorong pengembangan energi terbarukan melalui pengembangan model yang inovatif dan holistik sebagai salah satu muatan dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang lestari (PHBML). 

logo-mca-mcc