Pelaksanaan Perhutanan Sosial dan Reforma Agraria masih menjadi “PR” besar bagi pemerintah. Dari target distribusi lahan hutan 12,7 hektar kepada masyarakat, hingga saat ini implementasinya masih jauh dari harapan. Berbagai faktor seperti permasalahan tenurial dan konflik lahan, turut menjadi kendala dalam mewujudkan pengelolaan hutan berbasis masyarakat, seperti yang terjadi di Seko, Sulawesi Selatan. Di beberapa daerah, program Perhutanan Sosial belum terintegrasi ke dalam rencana pembangunan daerah sehingga menyebabkan ketiadaan anggaran dalam mendukung program tersebut. Rendahnya akses legal masyarakat [yang difasilitasi melalui Perhutanan Sosial] terhadap hutan menyebabkan tingkat kemiskinan masyarakat sekitar hutan masih tinggi.

Namun jaminan akses bukanlah satu-satunya penentu dalam peningkatan ekonomi masyarakat maupun kelestarian hutan itu sendiri. Perlu dilakukan berbagai upaya dalam memaksimalkan pemanfaatan hutan dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip konservasi. Keterlibatan berbagai pihak termasuk di luar sektor kehutanan tentu berperan penting dalam mewujudkan tujuan tersebut, seperti pengembangan kelembagaan usaha, peningkatan kualitas produk, dan pemasaran hasil hutan.

Misalnya saja keterlibatan Pemerintah Nagari dalam melaksanakan program Payment for Ecosystem Services di Hutan Nagari Padang Limau Sundai, Sumatera Barat. Beberapa upaya lain dalam memaksimalkan sumber daya hutan juga terjadi di Lombok Tengah dan Sulawesi Selatan melalui peningkatan kapasitas dalam pemanfaatan HHBK. Peningkatan kemampuan masyarakat tersebut diharapkan dapat mereduksi potensi pengrusakan hutan namun tetap berdampak terhadap ekonomi masyarakat.

Beberapa cerita diatas diangkat dalam Warta FKKM kali ini untuk memberikan perspektif dalam isu Perhutanan Sosial dan Reforma Agraria.  Dua isu lama yang selama erat terkait dengan Kehutanan Masyarakat.  Kami berharap Warta FKKM kembali dapat hadir dalam perdebatan wacana sekaligus mempromosikan praktek-praktek Kehutanan Masyarakat di Indonesia.

Dapatkan Warta FKKM Edisi 1 2017 (KLik Tautannya, atau klik gambar sampulnya)