Kawasan Wallacea yang membentang di jantung Nusantara dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Wilayah yang mencakup kawasan Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara ini sebagai zona transisi yang terkurung oleh laut dalam, terpisah dari Asia ataupun Australia. Beberapa di antaranya bahkan endemis satu atau sekelompok pulau saja. Meskipun demikian, kawasan ini juga menjadi rumah bagi 560 jenis terancam punah, atau sekitar separuh jenis terancam punah yang tercatat di Indonesia.

Salah satu kabupaten yang sangat penting dalam Kawasan Wallacea ini adalah Kabupaten Luwu Timur, dan kabupaten yang berjulukan BUMI BATARA GURU ini dianugerahi kekayaan berupa Kompleks Danau Malili yang terdiri dari 3 DANAU PURBA yang besar, yakni Matano, Mahalona, Towuti serta 2 danau kecil Lantoa atau Wawantoa, dan Masapi.

Beberapa lembaga penelitian telah mempublikasikan tingginya keanekaragaman jenis di ekosistem Kompleks Danau Malili ini, antara lain: a) Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) WALLACEA, menyebutkan di kawasan ini terdapat 69 jenis PENTING, baik tumbuhan, hewan, maupun biota perairan. b). Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2014, mempublikasikan, terdapat 29 jenis ikan, dan 19 jenis diantaranya termasuk endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di belahan bumi manapun kecuali di Kompleks Danau Malili. c) International Union for Concervtion of Nature (IUCN) pada 2003), menemukan , 13 sampai 15 jenis udang air tawar yang endemik, bahkan masih banyak jenis yang belum diketahui namanya. Khusus di Danau Matano, IUCN menemukan 7 jenis tanaman endemik, 12 molusca (keong) endemik, dan 17 jenis ikan endemik, seperti Glossogobius matanensis, Telmatherina abendanoni, T. Bonti, T. Antoniae, Oryzias matanensis dan Dermogenys weberi.

Namun di balik itu, tingkat ancamannya keanekargaman hayati dan ekosistem Kompleks Danau Malili ini sangat tinggi, baik di Daerah Tangkapan Air (DTA) dan badan danaunya yang akan mengancam kepunahan jenis/spesies seiring dengan berjalannya proses kerusakan ekosistemnya.
Mengingat tanggungjawab menjaga Kompleks Danau Malili ini bukanlah tugas kecil, meskipun harus dimulai dari level yang kecil –yaitu desa,- namun perlu menjadi tanggungjawab lebih banyak pihak, sehingga dengan adanya forum danau di kabupaten akan menjadi wadah bersama yang keanggotaannya dapat berasal dari desa-desa di sekitar Kompleks Danau Malili, serta pihak yang berkepentingan terutama pengambil kebijakan (Pemkab, Pemprov, BKSDA, peneliti, LSM, anggota dewan, dan pihak swasta) untuk menjalankan aksi bersama terhadap pelestarian ekosistem Kompleks Danau Malili.

Terkait dengan hal tersebut di atas, Perkumpulan Wallacea, Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM) dan Burung Indonesia bersama CEPF Wallacea mengajak para pihak untuk bersama-sama membangun komitmen mendukung Pengelolaan Kompleks Danau Malili Kabupaten Luwu Timur dengan melibatkan banyak pihak, karena berbicara penyelamatan Kompleks Danau Malili bukan hanya menangani danaunya saja, akan tetapi perlu melihat keterpaduan antara hulu dengan hilir. Ini berarti bahwa penanganan Daerah Tangkapan Air (DTA) Kompleks Danau Malili menjadi bagian yang sama pentingnya dengan badan danaunya.

Tujuan

  • Mempertemukan banyak pihak dan pelaku yang terkait dengan kegiatan Perlindungan Ekosistem Kompleks Danau Malili mulai dari desa, kabupaten, provinsi dan pusat sebagai bagian dari memperkuat jaringan kerja bersama dalam upaya menjaga dan melestarikan Kompleks Danau Malili.
  • Mengkampanyekan pentingnya jaringan kerja bersama (kolaboratif) dan partisipatif dalam melahirkan kebijakan daerah terhadap perlindungan danau di Sullsel, terkhusus perlindungan Kompleks Danau Malili
  • Berbagai informasi terkait program dan kegiatan dari para pihak dan para pemangku kepentingan yang dapat diintegrasikan kedalam perlindungan ekosistem Kompleks Danau Malili Kabupaten Luwu Timur

Luaran yang diharapkan

Kegiatan ini diharapkan menghasilkan beberapa luaran sebagai berikut:

  • Adanya komitmen bersama dalam bentuk dukungan dan pengintegrasian program pemberdayaan masyarakat terkait perlindungan ekosistem Kompleks Danau Malili
  • Ada kesepahaman berjaringan kerja bersama dari para pihak dalam mendorong kebijakan kebijakan daerah terhadap perlindungan danau di Sullsel, terkhusus perlindungan Kompleks Danau Malili
  • Terjadi pengintegrasian program dan kegiatan dari para pihak dan para pemangku kepentingan dalam perlindungan ekosistem Kompleks Danau Malili Kabupaten Luwu Timur

Waktu dan Tempat Kegiatan
Sarasehan ini diselenggarakan pada HARI SENIN, 30 APRIL 2018 bertempat di Aula Kantor Camat Nuha Kabupaten Luwu Timur

Narasumber dan Moderator
Narasumber pada sarasehan ini :

  1. Sekjen Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM)/ Andri Santosa
  2. Ketua Pokja Kemendes/ Idham Arsyad
  3. Kadispora Provinsi Sulsel/Ir. Sri Endang Soekarsih, M.Si.
  4. Burung Indonesia/Ria Saryanthi
  5. Ketua Forum Pemerhati Kompleks Danau Malili (FPKDM) Luwu Timur/Ir. Zainuddin, MT

Moderator: Husaimah Husein,SH

Pelaksana Kegiatan
Kegiatan ini dilaksanakan oleh FORUM PEMERHATI KOMPLEKS DANAU MALILI (FPKDM) bekerjasama dengan Perkumpulan Wallacea, Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM), Burung Indonesia, Critical Ecosystem Partnership Fund (CEPF) Wallacea, dan Pemkab Lutim.

Peserta Kegiatan
Peserta sarasehan akan dihadiri sebanyak 61 orang yang berasal dari berbagai utusan, yaitu:
SKPD terkait lingkup Pemprov Sulsel dan Pemkab Lutim, Forum Danau (Desa/Kabupaten), Pemerintah Desa (Kades dan BPD), P3MD, Karang Taruna (Desa/Kabupaten), BKSDA, CSO, PT Vale, dan Akademisi.