Jumat (31/08/2018) FKKM mengundang Perkumpulan Wallacea (Wahana Lingkungan Lestari Cellebes Area) untuk menjadi narasumber diskusi mengenai kerja sama multi pihak Kompleks Danau Malili, Luwu Timur bersama dengan lembaga – lembaga lainnya. Diskusi diselenggarakan di kantor FKKM, Jl. Sedap Malam Raya no.4, Yasmin Bogor. Diskusi ini merupakan salah satu diskusi reguler yang diadakan FKKM.

Basri Andang selaku direktur eksekutif wallacea memaparkan bahwa wallacea ingin membuat kerjasama bersama masyarakat dan pemerintah daerah untuk menjujung potensi yang ada di danau malili ini. Lanskap danau malili memiliki keunikan yang khas yaitu berupa danau yang bertingkat yang meliputi danau matano, danau mahalona dan danau towuti. Danau – danau tersebut menyimpan banyak kekayaan seperti jenis ikan endemik, artefak peninggalan sejarah dan potensi ekowisata. Kawasan lanskap danau malili ini termasuk ke dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA). Akan tetapi pengelolaan TWA ini kurang dimaksimalkan oleh BKSDA dan juga pemerintah daerah yang masih kurang peduli dengan kawasan danau ini.

Perkumpulan Wallacea mencoba untuk membuat kerja sama bersama multipihak antara  masyarakat, BKSDA, dan pemerintah daerah yang ada di  Pallopo, Sulawsi Selatan. Dalam diskusi Basri Andang menkankan bahwa  pemanfaatan danau tidak hanya dilakukan pada badan danau saja melainkan juga terhadap lingkungan sekitar danau. Terdapat  4 desa yang nantinya akan di ajak kerjasama dalam kerjasama multipihak ini. Masalah yang terbesar dalam hal ini adalah BKSDA dan Pemerintah daerah yang kurang mengeksplorasi hasil alam dari kawasan danau ini. Padahal di dalam kawasan ini sudah ada wisatawan yang masuk dan berwisata di tempat ini. Dibalik potensi yang ada di kawasan danau malili ini ada juga ancaman yang meliputi hilangnya jenis-jenis dan degradasi keanekaragaman hayati. Selain itu, masyarakat masih tertarik untuk menanam merica dan belum tertarik dengan menanam pohon. Perkumpulan wallacea menawarkan bibit pohon kepada masyarakat agar kelak nantinya apabila harga merica kurang baik masyarakat masih ada harapan terhadap pohon. Selain itu juga Pohon akan selalu menyuplai sumber air kepada masyarakat. Permasalahan utama yang di paparkan dalam diskusi mengarah pada 2 hal yaitu ketidaktahuan semua pihak terhadap nilai potensi yang ada di kawasan danau malili dan kurangnya ketertarikan masyarakat terhadap pengembangan potensi wisata di daerah tersebut.

 

Siti Nurliza, salah satu peserta diskusi merespon bahwa harus ada penelitian nilai dari jasa lingkungan yang dihasilkan oleh danau agar pemerintah tahu bahwa daerah tersebut memiliki kekayaan yang harus dipertahankan keberadaanya sehingga pemerintah mau berperan aktif dan mendukung hal yang berkaitan dengan kawasan ini.  Selain itu peserta diskusi lain, Teguh menyatakan bahwa apabila pengembangan wisata hanya mengandalkan berupa objek wisata kecil seperti spot foto itu hanya akan berdampak kecil kepada masyarakat. Akan tetapi apabila pengembangan potensi wisata didasarkan pada potensi ciri khas utama daerah tersebut seperti ikan purba, danau terdalam di dunia, dan adanya nilai-nilai sejarah. Hal-hal tersebut lah yang akan mendatangkan  peneliti, ahli sejarah, dan tokoh berpengaruh yang secara tidak langsung akan mendatangkan wisatawan baik lokal dan internasional.