TALANG MAMAK DI TEPI ZAMAN merupakan sebuah potret mutakhir atas situasi orang Talang Mamak di Indragiri Hulu, Riau.   Selama berabad, komunitas  adat ini hidup dalam kebiasaan dan ritual yang mereka yakini sebagai Langkah Lama.  Mereka percaya, Allah Yang Maha Kuasa telah memerintahkan orang Talang Mamak untuk tetap hidup dalam kepercayaan Langkah Lama.

Pada 1930, V. Obdeyn menulis catatan  bertajuk  De langkah lama der orang Mamak van Indragiri.  Catatan itu dipubikasikan dalam jurnal terbitan Masyarakat Seni dan Sains Kerajaan Bataviaasch di Jakarta/Batavia (Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen).   Catatan Obdeyn menyingkap sisi kehidupan orang Talang Mamak secara cukup lengkap.   Dia memberikan gambaran yang utuh terhadap situasi komunitas adat ini di zaman tersebut, termasuk dongeng-dongeng tentang keturunan orang Talang Mamak, tata cara dan ritual adat, tatakelola sumberdaya alam dan hubungannya dengan Kerajaan Indragiri.

koleksi pribadi penulis

TALANG MAMAK DI TEPI ZAMAN memotret lebih dalam.  Melalui pendekatan antropoligi yang bertutur, Penulis menjawab berbagai pertanyaan tentang sejauh mana orang Talang Mamak berhubungan dengan sumber-sumber kehidupan, termasuk lahan, hutan, sungai/danau/tasik, belukar serta fungsi-fungsi hayati yang ada di dalamnya.

Di bagian pertama, Penulis menuturkan deliniasi atas orang Talang Mamak.   Hal ini penting untuk memberikan batasan bagi pembaca, siapa yang dimaksud dengan orang Talang Mamak. Di dalamnya juga menjelaskan tentang batin dan kebatinan, dua hal yang kadang membingungkan.

Selanjutnya, buku ini mengisahkan tentang sistem adat yang dianut orang Talang Mamak. Talang Mamak hidup dalam sebuah hierarki oligarki yang kental dan mengakar. Dengan sistem itu, ketimpangan kuasa tampak nyata di lapangan.  Namun sistem ini juga memberikan dampak yang cukup berarti atas eksistensi mereka sebagai sebuah entitas budaya.

Orang Talang Mamak berkelindan dalam dinamika yang cukup rumit dan kompleks. Hal ini dimulai dari runut sejarahnya di masa lalu yang belum tuntas diperdebatkan.   Kehadiran kerajaan Indragiri dimaknai orang Talang Mamak hanya sekedar penyambung syarak (agama). Tapi bagaimana dengan pihak kerajaan sendiri? Perlu penelusuran lebih jauh tentang itu. Suma Oriental yang ditulis Tome Pires tahun 1515 tentu tak mengantarkan pemahaman yang cukup utuh atas kerajaan ini.  Tak pula tuntas ketika itu dituliskan William Singletone dalam Old Ways-New Ways yang diterbitkan University of St. Andrews di Inggris pada 1998.

Selanjutnya, Buku ini mencoba menyigi soal-soal berkait tenure dan pengelolaan sumber daya alam.  Pada titik ini, orang Talang Mamak terlihat kalah telak oleh cara licik para pendatang. Obdeyn sesungguhnya telah menggambarkan situasi tersebut jauh hari sebelum perusahaan pemegang izin Hak Penguasaan Hutan (HPH) berkembang pada periode 1970-an.   Catatan Obdeyn juga sudah ada jauh hari sebelum masuknya gelombang program transmigrasi, perkebunan besar kelapa sawit, serta penetapan kawasan hutan sebagai kawasan konservasi Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Tapi catatan itu agaknya tak sempat terbaca oleh orang Talang Mamak.  Pada titik ini, sebuah kesadaran kolektif mesti muncul dari kalangan orang Talang Mamak sendiri.  Yakni kesadaran akan pentingnya pendidikan.   Kecuali itu, orang Talang Mamak juga mesti melakukan pembenahan struktur dan sistem adat.  Dengan itu, Talang Mamak membentuk pondasi yang cukup kuat menatap masa depan, bukan malah tersungkur di tepi zaman.

Ringkasan Buku

Judul             : TALANG MAMAK DI TEPI ZAMAN

Penulis          : Syafrizaldi Jpang

ISBN               : 978-602-5013-84-3

Penerbit         : AsM Law Office bekerjasama dengan Right Resources Initiative