Author: admin

7.000 Hektar Hutan Register 45 Dilepas untuk Warga Mesuji (Kompas, 4 Januari 2014)

BANDARLAMPUNG, KOMPAS.com – Kabar gembira untuk sebagian warga Mesuji. Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan menyatakan 7.000 hektar lahan akan dikeluarkan statusnya dari Register 45 Mesuji, Lampung. Zulkifli Hasan, Sabtu (4/1/2014), mengatakan, pihaknya sudah menyerahkan kewenangan tersebut kepada pemerintah setempat untuk membagikan tanah tersebut kepada warga yang berhak. “Buat saya Register 45 sudah selesai, 7.000 hektare sudah dikeluarkan dari kawasan itu. Saya sudah menyerahkana kepada bupati, tapi bupatinya bingung mau dibagi sama siapa,” katanya saat dikonfirmasi. Lebih lanjut ia menjelaskan, meskipun sudah dibebaskan, pemerintah merasa kesulitan untuk membaginya, mengingat penduduk yang menempati lahan tersebut sangat banyak. Ia mengkhawatirkan justru pembagian lahan tersebut bisa berunjung pada keributan antarwarga di sana. “Lahan itu diperuntukkan bagi warga yang berhak, tapi kenyataaanya ribuan penduduk sudah tinggal di sana, kalau yang 7.000 ini dibagi, bisa berdarah-darah lagi Mesuji,” kata dia. Sementara itu, kondisi kawasan Register 45 kian dipadati penduduk dari berbagai daerah. Mereka menempati secara ilegal, mendirikan bangunan permanen dan mengubah fungsi kawasan. Sedikitnya ada sekitar 10.000 warga ilegal menduduki kawasan itu, sedangkan lahan yang dibebaskan hanya 7.000 hektar yang diperuntukkan beberapa desa yang sebelumnya kena perluasan kawasan Register 45....

Read More

7.000 Hektar Hutan Register 45 Dilepas untuk Warga Mesuji (Kompas, 4 Januari 2014)

BANDARLAMPUNG, KOMPAS.com – Kabar gembira untuk sebagian warga Mesuji. Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan menyatakan 7.000 hektar lahan akan dikeluarkan statusnya dari Register 45 Mesuji, Lampung. Zulkifli Hasan, Sabtu (4/1/2014), mengatakan, pihaknya sudah menyerahkan kewenangan tersebut kepada pemerintah setempat untuk membagikan tanah tersebut kepada warga yang berhak. “Buat saya Register 45 sudah selesai, 7.000 hektare sudah dikeluarkan dari kawasan itu. Saya sudah menyerahkana kepada bupati, tapi bupatinya bingung mau dibagi sama siapa,” katanya saat dikonfirmasi. Lebih lanjut ia menjelaskan, meskipun sudah dibebaskan, pemerintah merasa kesulitan untuk membaginya, mengingat penduduk yang menempati lahan tersebut sangat banyak. Ia mengkhawatirkan justru pembagian lahan tersebut bisa berunjung pada keributan antarwarga di sana. “Lahan itu diperuntukkan bagi warga yang berhak, tapi kenyataaanya ribuan penduduk sudah tinggal di sana, kalau yang 7.000 ini dibagi, bisa berdarah-darah lagi Mesuji,” kata dia. Sementara itu, kondisi kawasan Register 45 kian dipadati penduduk dari berbagai daerah. Mereka menempati secara ilegal, mendirikan bangunan permanen dan mengubah fungsi kawasan. Sedikitnya ada sekitar 10.000 warga ilegal menduduki kawasan itu, sedangkan lahan yang dibebaskan hanya 7.000 hektar yang diperuntukkan beberapa desa yang sebelumnya kena perluasan kawasan Register 45....

Read More

Klasik Beans: Perjalanan Kopi Asalan Jadi Spesialti

http://skenakopi.com/laporan-utama/klasik-beans-perjalanan-kopi-asalan-jadi-spesialti/ Keragaman cita-rasa kopi spesialti Indonesia telah diakui dunia. Tiap tahunnya, permintaan kopi Spesialti asal Indonesia terus mengalami peningkatan. Salah satu pemasok kopi asal Indonesia yang telah diakui oleh dunia internasional adalah Klasik Beans. Klasik Beans merupakan unit koperasi di Bandung dan Garut, Jawa Barat yang berfokus pada budidaya kopi. Dalam acara From Sunda to San Fransisco: The Farm-to-Cup Journey of Indonesian Coffee di At America, Jakarta (6/10), Hamzah Robet, perwakilan dari Klasik Beans menuturkan bahwa, “Klasik Beans mampu membawa kopi berkualitas dari dataran Sunda menuju ratusan kedai kopi di Amerika dan Eropa.” atamerica PHOTO/AtAmerica Perjalanan kopi di tanah Sunda dimulai sejak masa penjajahan Belanda pada abad ke 17, tepatnya di gunung Halimun (Sukabumi) dan gunung Guntur (Garut). Namun, sekitar tahun 1880, terjadi letusan gunung Guntur mengakibatkan rusaknya perkebunan kopi di Garut. Sementara itu, hama penyakit tanaman kopi di gunung Halimun, melengkapi “kepunahan” kopi di Jawa Barat. Tanaman kopi pun mulai diganti dengan sayur-mayur oleh penduduk sekitar. Abad 17 PHOTO/AtAmerica Pada tahun 2000-an, kopi di tanah Sunda seolah mengalami babak baru. Dengan cara yang tidak biasa, orang-orang membawa kopi berbagai varietas Arabika dari berbagai daerah seperti; Aceh, Timor Timur, Sumatra, dan lain sebagainya ke tanah Sunda. “Pada awal tahun 2008, saat terjun langsung ke lapangan, kami melihat petani seolah mengalami semacam informasi yang terputus dalam budidaya kopi. Terdapat semacam persepsi komoditi dan volume, dimana kopi dipandang bukan untuk dikonsumsi....

Read More

Peluang Kopi dan Mete Pada Kehutanan Masyarakat

Lokakarya Nasional “Kebijakan & Pengembangan Produk Kopi & Mete pada Kehutanan Masyarakat”, di Bogor, 17 Oktober 2013 Meski peran masyarakat dalam pengelolaan hutan sudah diakui dan beragam hasilnya menjadi sumber pendapatan. Namun, kekayaan alam tersebut tidak serta merta membuat masyarakat menjadi kaya, kata Andri Santosa, Sekretaris Nasional FKKM[1] (Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat). Melihat persoalan itu, FKKM bersama Right Resources Initiative (RRI) mengadakan Lokakarya Nasional “Kebijakan & Pengembangan Produk Kopi & Mete pada Kehutanan Masyarakat”, di Bogor, 17 Oktober 2013. Pelibatan masyarakat dalam pengelolaan hutan kini tak lagi asing. Beragam nama dikenal, diantaranya perhutanan sosial, kehutanan masyarakat (KM), sertacommunity forestry. Skema pengelolaannya tak kalah beragam; Hutan Kemasyarakatan (HKm), Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), Hutan Desa, Kemitraan, Desa Konservasi, dan Hutan Adat telah diakui dalam produk kebijakan di Indonesia. Namun, masih perlu dipertanyakan dampak dari keterlibatan tersebut. Sejatinya upaya pelibatan bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat di sekitar kawasan hutan. Apakah tujuan ini sudah tercapai? Community Forestry Enterprise (CFE), atau wirausaha kehutanan masyarakat juga mulai mengemuka. Namun, berwirausaha tidaklah sederhana bagi masyarakat. Setidaknya diperlukan kepastian kelembagaan, produk yang berdaya saing, kebijakan yang mendukung, serta pasar yang potensial. Melalui dukungan RRI, FKKM juga melakukan kajian terhadap produk unggul kehutanan masyarakat di region Sulawesi, Jawa serta Nusa Tenggara. Produk tersebut dinilai dari sisi ketersedian bahan baku, kebijakan, dan potensi pasar. Kopi dan Mete menjadi pilihan produk yang direkomendasikan untuk didorong menjadi unggulan KM, kata Wisnu...

Read More