Author: elnino

SK. Gub KalSel No. 188.44/0651/Kum/2016 : Pembentukan Kelompok Kerja Percepatan Perhutanan Sosial Provinsi Kalimantan Selatan Periode 2016 – 2019

Surat Keputusan (SK) Gubernur Kalimantan Selatan No. 188.44/0651/Kum/2016 tentang “Pembentukan Kelompok Kerja Percepatan Perhutanan Sosial Provinsi Kalimantan Selatan Periode 2016 – 2019” dapat di downlod disini:Pembentukan Kelompok Kerja Percepatan Perhutanan Sosial Provinsi Kalimantan...

Read More

Tangsi Ampek di Kaki Kerinci: Pesona Wisata Solok Selatan

Hutan Nagari merupakan daerah berhutan yang dikelola masyarakat untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Hutan ini telah menyediakan berbagai keperluan yang secara langsung dapat dinikmati masyarakat. “Kalau hutan tidak terjaga, hama babi akan merusak tanaman warga. Untungnya babi punya kehidupan sendiri di dalam hutan sehingga tak banyak menganggu. Termasuk juga hama lain. Jadi kalau hutan tetap terjaga, pertanian kami tentu tak banyak mengalami gangguang,” papar Yetti. Di hadapan Nagari Lubuak Gadang Selatan, Gunung Kerinci menjulang sebagai pasak alam yang kokoh. Bagian kaki gunung merupakan perkebunan teh yang terhampar luas. Pucuk-pucuk teh telah menjadi harapan tersendiri bagi para pekerja harian. Sekelompok ibu-ibu pekerja perkebunan tengah memetik teh, keranjang besar tersandang dipunggung mereka. Hasil petik itu akan ditimbang menjelang siang hari. Wisatawan yang datang tentunya dapat menikmati pemandangan elok ini setiap pagi. Bahkan kalau beruntung, bisa ikut membantu bekerja memetik teh bersama kaum ibu. Kebun teh, menjadi hamparan alam yang mengesankan. Petak-petak pengelolaan kebun yang tertata rapi, ditambah dengan kesejukan alam dan bentang pegunungan yang menawan membuat pengunjung serasa dimanjakan. Di sela hamparan teh, berkilometer di tenggara Aia Manyuruak, dua buah sepeda motor melaju meninggalkan debu. 3 orang siswa SMAN 2 Bidar Alam, Rizki Afrianto, Hendri Kurniawan dan Hafiz Al Fikri memacu sepeda motornya melewati jalan tanah berbatu di sela perkebunan teh dibawah pengelolaan PT. Mitra Kerinci. Setelah hampir satu setengah jam bergelut dengan jalan yang agak menanjak, mereka memarkir kendaraan. Ketiganya lantas...

Read More

Geliat Solok Selatan dalam Melestarikan Keindahan Alamnya

Wisata Solok Selatan kini tumbuh seiring dengan promosi yang gencar. Media arus utama dan media sosial tak henti menyuarakan agar orang tertarik datang. Mulai dari wisata kebun teh, kawasan Karst, air terjun, arung sungai, hingga wisata mendaki gunung. Solok Selatan berbenah cepat, masyarakatpun antusias. Tapi justru banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Deru air terdengar dari jauh, padahal lokasi yang dituju masih harus melewati dua punggungan bukit lagi. Jalan tanah baru saja dibuka dua bulan yang lalu, mempermudah akses pengunjung mendatangi Aia Manyuruak (hidden water). Dari pusat Nagari Lubuak Gadang Selatan, Kecamatan Sangir di Solok Selatan, Sumatera Barat, sedianya...

Read More

Bengkulu Siap Percepat Implementasi Perhutanan Sosial

Kelompok Kerja Percepatan Perhutanan Sosial (Pokja PPS) Provinsi Bengkulu Tahun 2017 – 2019 telah ditetapkan pada Sabtu (25/3) di Hotel Amaris Kota Bengkulu. Demikian disampaikan Ady Saputra, Aktivis Kelopak Bengkulu saat mengikuti Sosialisasi dan Rapat Pembentukan Percepatan Perhutanan Sosial (Pokja PPS) Provinsi Bengkulu yang diselenggarakan pada 23-25 Maret 2017 lalu. “Ada tiga hal penting yang dihasilkan dalam kegiatan kemarin, yakni Pembentukan Pokja PPS Tingkat Provinsi Bengkulu, Rumusan Tugas dan Kinerja Pokja, serta terbentuknya Struktur Organisasi Kelompok Kerja Percepatan Perhutanan Sosial Provinsi Bengkulu Tahun 2017-2019” terang Ady. Kegiatan ini diselengarakan oleh Direktorat jenderal Perhutanan sosial dan kementerian lingkungan Kementerian Lingkungan...

Read More

Rilis Media: Mendesak, disahkan Revisi UU No. 5 tahun 1990

Jakarta, 24 Januari 2016. Masih Ingat kasus kakatua dalam botol? Puluhan ekor kakatua Jambul Kuning diselundupan lewat Kapal Tidar, rute Papua menuju Jakarta tahun 2015 lalu, dengan cara dibius hingga lemas dan dimasukan dalam botol air minum kemasan. Atas kejadian ini Kelompok Kerja (Pojka) Konservasi mendesak pemerintah untuk segera merevisi Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan mendapat dukungan 280.000 masyarakat melalui http://Change.org/kakatuabotol Kemudian kejadian yang saat ini sedang menjadi pembicaraan publik adalah kondisi Beruang di Kebun Binatang Bandung, dan Lumba-lumba yang diangkut dari Jakarta ke Pontianak dengan menggunakan moda transportasi Sriwijaya Air. Masih banyak deretan kasus perdagangan dan pelanggaran terhadap satwa liar lain yang masih belum tertangani oleh pemerintah, lantas bagaimana kasus ini dalam kerangka revisi Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati? Sampai dimana proses revisinya? “Kasus soal konservasi, khususnya pengelolaan satwa liar ini makin meningkat, diperlukan perangkat hukum yang tegas, demi adanya efek jera” ungkap Andri Santosa FKKM dan koordinator Pokja Konservasi. Lanjut Andri,”Ini urgen untuk segera mengesahkan Revisi UU No. 5 Tahun 1990, agar tidak mengulang kasus yang sama”. Hasil kajian Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) ini menunjukkan selama 2011-2014, ada 45 putusan kasus pidana jual beli satwa yang telah berkekuatan hukum tetap. Dari jumlah ini, baik tuntutan maupun vonis hakim umumnya sangat ringan, di bawah satu tahun. “Tuntutan jaksa dan vonis yang...

Read More