di dalam cangkir kopi ini tak hanya ada campuran air panas dan kopi, di dalam kopi itu itu ada keringat petani kita.” jelas Indah Putri Indriani, Bupati Luwu Utara  dalam “Uji Cita Rasa” di Cafe Chalodo , Masamba pada 18/8. Kegiatan ini diselenggarakan Konsorsium Hijau Lestari (KHL) dengan menghadirkan Segenap SKPD,  Perwakilan Pedagang Kopi, Perwakilan TNI di Masamba. Momen ini juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat khususnya di wilayah Luwu Utara tentang bagaimana mengenal dan bangga akan kopi lokal kecamatan Seko.

Cupping

Uji cita rasa dilakukan dengan  memberikan label tertutup pada toples yang diisi kopi dan hanya ditandai oleh angka atau huruf sebagai kode untuk kemudian diolah oleh barista lokal untuk kemudian disajikan dalam 3 cangkir untuk kemudian dinilai kepada tim penilai. Ini ditujukan untuk menjaga objektifitas dalam menilai hasil penyajiannya. Penilaian difokuskan untuk melihat Aroma setelah penggilingan dan setelah diseduh, tingkat keasaman dan kekentalan, keseragaman rasa, dan rasa akhir (after taste)

Sekarang kita akan bekerja bersama, mari kita nilai bagaimana Kopi Seko yang di olah secara baik dengan kopi-kopi lainnya.”terang Pras, trainer kopi yang telah berpengalaman dalam melatih petani-petani kopi di Jawa, Kalimantan dan Sumatra.

Pada acara ini, Kopi Seko disandingkan dengan lima kopi yang telah disiapkan yaitu; Kopi Karawang, Kopi Kerinci Aro, Kopi SPI Sumatera, Kopi Bajawa dan Kopi Enrekang. Kopi Seko berhasil menduduki peringkat 2 dibawah Kopi kerinci Aro dengan perbedaan 80 point dengan skala 1-1000.

Penguatan dan Pengembangan Pengolahan Kopi Seko untuk menjadi komoditas andalan di Kabupaten Luwu Utara merupakan salah satu fokus kegiatan yang didorong oleh Konsorsium Hijau Lestari (KHL). Konsorsium ini merupakan gabungan dari 7 NGO, dimana LEI bekerja bersama  LATIN, YBUL, YKMI (FKKM), KPAM, AMAN TL, dan Wallacea mendapat dukungan dari (Millenium Challenge Account) MCA-Indonesia hingga Desember 2017. MCA-Indonesia berkomitmen untuk mendukung target nasional untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dan mendorong pengembangan energi terbarukan melalui pengembangan model yang inovatif dan holistik sebagai salah satu muatan dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang lestari (PHBML).

Kita ini perlu branding, kalau ada di kasih warung kopi dua puluh ribu, langsung tulis di facebook mahalnyaa!  jangan ki begitu.. di dalam segelas kopi tidak hanya ada air dan kopi saja,, tapi juga ada keringat petani kita.” Jelas Indah kembali mengingatkan melihat hasil yang dicapai dalam uji cita rasa ini menjadi salah satu kebanggaan sendiri khususnya bagi Pemerintah Luwu Utara.

logo-mca-mcc