Memulai usaha di tingkat masyarakat tidak selalu harus diawali dengan modal besar dan fasilitas yang lengkap. Sering kali, usaha justru tumbuh dari keberanian untuk memanfaatkan potensi lokal, semangat gotong royong, serta kemauan untuk belajar dan berkembang bersama. Kisah KUPS Pakebucu di Desa Malasari menunjukkan bagaimana keterbatasan bukan menjadi penghalang untuk memulai, melainkan menjadi titik awal lahirnya usaha produktif yang mengolah potensi desa, membuka ruang pemberdayaan bagi perempuan, sekaligus mendorong masyarakat untuk menjaga sumber daya hutan sebagai bagian penting dari keberlanjutan penghidupan mereka.

Memulai Usaha dari Nol

Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) adalah kelompok masyarakat yang mengembangkan usaha di kawasan hutan berdasarkan izin dari pemerintah, dengan tujuan utama meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian hutan. KUPS dapat menjalankan berbagai kegiatan seperti budidaya hasil hutan bukan kayu (madu, rotan), budidaya perikanan, peternakan lebah, hingga ekowisata, sebagai bagian dari program Perhutanan Sosial.

Di tengah banyaknya cemilan modern yang bermunculan, keripik pisang tetap
jadi favorit banyak orang. Rasanya yang gurih dan renyah bikin siapapun sulit untuk berhenti ngemil. Nah, di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, terdapat satu produk lokal yang sedang dikembangkan oleh salah satu KUPS bernama Pakebucu.

Proses pembuatan keripik pisang oleh kelompok KUPS Pakebucu | foto by Icha

KUPS Pakebucu alias “Pasukan Kelompok Butuh Cuan”  terbentuk  pada tanggal 10 Agustus  tahun 2025, yang awal berdirinya hanya sejumlah 15 anggota. Modal awal usaha berasal dari iuran anggota yang terkumpul sebesar Rp75.000. Dana tersebut digunakan sebagai modal bersama, sementara kompor, penggorengan, serta peralatan seadanya dipinjamkan oleh masing-masing anggota. Dengan peralatan yang sederhana inilah KUPS Pakebucu memulai usahanya. Tanpa bantuan dari pihak luar, KUPS Pakebucu mengandalkan dukungan penuh anggota dalam melanjutkan usahanya.

Keripik pisang Pakebucu memiliki keunikan tersendiri, yaitu menggunakan pisang jenis Nangka dan Kepok yang langsung diolah oleh ibu-ibu Pakebucu.

Pisang dikupas, diiris tipis, digoreng sampai kering sempurna, lalu dikemas rapi tanpa bahan pengawet. Itu sebabnya, keripiknya bisa tahan lama dan tetap renyah. Selain rasa dan kualitasnya yang konsisten, kemasannya juga bersih dan menarik untuk dibeli dan dinikmati di berbagai suasana.

Pembeli produk KUPS Pakebucu di  acara Temu Nasional Gerakan Perempuan Penjaga Hutan yang Setara, Inklusif, dan Berkelanjutan untuk Ketahanan Iklim | Foto by Onma Nafamora

Dalam memasarkan produknya, KUPS Pakebucu menerapkan strategi sederhana untuk memperkenalkan produknya ke khalayak luas, dengan memanfaatkan media sosial seperti Facebook ibu-ibu Pakebucu dan share info produk melalui WhatsApp.

Pemasaran juga dilakukan dengan menitipkan produk ke warung-warung serta ikut terlibat aktif dalam kegiatan pameran produk, yaitu melalui pameran pada Festival PESONA (Perhutanan Sosial Nasional) dan pameran PARARA Mini Festival. Kegiatan tersebut difasilitasii oleh FKKM serta didukung oleh The Asia Foundation melalui program SETAPAK 4.

Awalnya, pembuatan keripik pisang nangka hanya dimaksudkan sebagai usaha sampingan untuk menambah penghasilan untuk anggota KUPS Pakebucu. Namun, karena kualitas rasa yang terjaga, seiring berjalannya waktu, banyak warung-warung mulai tertarik memesan secara rutin. Melihat peluang ini, KUPS Pakebucu memberanikan diri untuk memperluas pemasarannya. Keberhasilan KUPS Pakebucu juga menginspirasi masyarakat setempat untuk mengelola potensi lokal, salah satunya adalah potensi dari pisang yang ditanam, diolah dan menambah  penghasilan.

Tantangan dan Harapan

Gerai produk KUPS Pakebucu Desa Malasari di Festival Parara, Jakarta | Foto by Icha

Menjalankan usaha rumahan tentu bukan tanpa tantangan. Di awal usaha, tantangan terbesarnya adalah keterbatasan modal dan promosi. Berbekal semangat dan dukungan dari anggota yang ikut bantu dalam proses penggorengan dan pengemasan, semua dapat berjalan dengan lancar.

KUPS Pakebucu berharap agar kedepannya dapat mengembangkan usaha jauh lebih baik dari hari ini, yaitu dari sisi produksi maupun pemasaran, dan bermimpi suatu saat bisa memiliki tempat produksi yang lebih besar sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.

Selain itu, harapannya produk keripik ini dapat disebarluaskan di di berbagai outlet, seperti outlet oleh-oleh di tempat wisata maupun di bandara. Hasil penjualan keripik pisang nangka KUPS Pakebucu bisa memperoleh omzet sekitar Rp700.000 per bulannya, penghasilan ini cukup membantu kebutuhan anggota dan juga memberi motivasi buat terus berproduksi.

Saat ini KUPS Pakebucu juga sedang mengembangkan produk-produk lainnya, yaitu Sirup Pala Kayu Manis dan Selai Nanas Pala, yang harapannya dapat berkembang pesat dan memberi dampak baik bagi keberlanjutan KUPS Pakebucu.

Perjalanan KUPS Pakebucu juga membawa perubahan bagi para anggotanya. Sebagian besar ibu-ibu bergabung karena memiliki waktu luang dan ingin memperoleh tambahan penghasilan. Kini, waktu luang tersebut tidak lagi hanya dihabiskan untuk mengobrol, tetapi dimanfaatkan untuk kegiatan produktif yang menghasilkan pendapatan.

Di tingkat keluarga, keputusan rumah tangga masih banyak diambil bersama suami sebagai kepala keluarga. Namun, melalui KUPS para perempuan memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat, berdiskusi, dan terlibat aktif dalam setiap pengambilan keputusan di dalam kelompok. Bahkan, seluruh keputusan terkait pengelolaan usaha ditentukan oleh anggota perempuan, sementara anggota laki-laki yang terlibat lebih banyak membantu sebagai kurir atau pendukung operasional.

Bagi anggota KUPS Pakebucu, usaha ini bukan sekadar menghasilkan produk. Lebih dari itu, usaha ini menjadi ruang belajar, bekerja sama, dan membuktikan bahwa perempuan desa mampu mengelola potensi lokal seperti memanfaatkan pisang dan hasil hutan lainnya sebagai bahan baku, masyarakat semakin terdorong untuk mengelola lahan secara berkelanjutan, menanam jenis-jenis tanaman yang dibutuhkan, serta menjaga keberlangsungan sumber daya hutan sebagai penopang usaha mereka serta menjadi sumber penghidupan yang berkelanjutan. Dari dapur sederhana di Desa Malasari, mereka sedang membangun harapan bagi keluarga, masyarakat, dan kelestarian hutan.

Kontributor: Jomi Suhendri, Riska Agustin, Onma