Seberapa besar peran areal perhutanan sosial bagi pendapatan keluarga petani? Untuk menjawabnya, YKMI-FKKM, atas penunjukan Direktorat Penanganan Konflik Tenurial dan Hutan Adat (PKTHA) dan Forest Program V (FP V), menyusun data dasar (baseline) sosial ekonomi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, dan Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Keduanya adalah lokasi FP V, program kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jerman. Survei dilakukan pada November hingga Desember 2023 kepada 287 anggota dari 41 Kelompok Perhutanan Sosial (KPS), yaitu 168 responden dari 24 KPS di Sikka dan 119 responden dari 17 KPS di Sanggau. Tim juga menggelar diskusi kelompok terfokus, wawancara, dan observasi lapangan.
Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan rumah tangga dari areal perhutanan sosial mencapai sekitar Rp15,2 juta per tahun di Sikka dan Rp13,1 juta per tahun di Sanggau. Jika ditambah pendapatan dari luar areal perhutanan sosial, total pendapatan rata-rata sekitar Rp21 juta per keluarga per tahun di kedua kabupaten. Areal perhutanan sosial menyumbang 72 persen pendapatan keluarga di Sikka dan 64 persen di Sanggau, dari komoditas seperti kemiri, jambu mete, pisang, kelapa, karet, durian, dan kakao.
Angka ini masih di bawah garis kemiskinan BPS 2023 yang sekitar Rp2,3 juta per keluarga per bulan. Namun, laporan mencatat bahwa areal perhutanan sosial juga memberi manfaat yang belum dihitung dalam pendapatan, seperti sumber pangan, air, bahan untuk rumah, protein, dan ruang melanjutkan budaya bagi masyarakat adat. Tantangannya berbeda di tiap lokasi. Di Sikka, anggota kelompok masih terjerat sistem ijon dan cenderung menjual bahan mentah, sementara kebakaran dan kekeringan mengancam hasil panen. Di Sanggau, keterampilan budidaya dan pengolahan serta akses pasar masih terbatas, ditambah ekspansi kelapa sawit dan perambahan dari luar kelompok.
Untuk meningkatkan pendapatan, studi ini merekomendasikan penanaman komoditas yang berhasil dalam waktu menengah seperti kakao, vanili, pisang, kopi, dan durian, pengolahan hasil menjadi produk bernilai tambah, perluasan akses pasar dan transportasi, serta penguatan kapasitas pendamping perhutanan sosial. Data ini menjadi acuan untuk mengukur target FP V, yaitu kenaikan pendapatan masyarakat sebesar 15 persen pada akhir proyek.
Laporan lengkap studi ini dapat dibaca melalui tautan berikut: [Laporan Akhir Penyusunan Baseline Sosial Ekonomi Sikka dan Sanggau]
0 Komentar