FKKM Hadirkan Produk Unggulan Komunitas di Pasar Hijau Rakyat PARARA 2026

by admin

Okt 20, 2026

Comments (0)

Produk pangan lokal dan kerajinan masyarakat dampingan Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM) hadir menyapa masyarakat perkotaan dalam Bazar Pangan Lokal: Pasar Hijau Rakyat PARARA 2026 pada (17/10/2026) di Lantai 2 Lippo Plaza Ekalokasari, Bogor. Bertepatan dengan peringatan Hari Pangan Sedunia (World Food Day), partisipasi ini menjadi salah satu upaya FKKM untuk memperkenalkan potensi produk komunitas sekaligus memperluas akses pasar bagi usaha masyarakat di sekitar hutan.

Melalui stan pameran yang menghadirkan beragam produk unggulan, FKKM membawa cerita tentang kekayaan pangan lokal, keterampilan masyarakat, dan pemanfaatan sumber daya alam yang menopang kehidupan komunitas. Produk-produk tersebut bukan sekadar barang yang diperdagangkan, tetapi juga mencerminkan pengetahuan, keterampilan, dan upaya masyarakat dalam mengembangkan sumber penghidupan berbasis potensi lokal.

Dari Buah Pala hingga Kopi Lokal

Beragam produk kuliner dan kerajinan ditampilkan dalam stan FKKM. KUPS Pakebucu LPHD Mahara Desa Malasari Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor memperkenalkan olahan buah pala dan produk kuliner Bogor, mulai dari selai nanas pala, sirup pala kayu manis, hingga keripik manis dan asin. Produk-produk ini menunjukkan bagaimana komoditas lokal dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang memiliki peluang untuk menjangkau konsumen lebih luas.

Dari sektor kopi, KTH Cijantur Makmur Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor membawa Kopi Rumasa dalam kemasan 50 gram dan 100 gram. Kehadiran kopi lokal ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan hasil usaha masyarakat sekaligus membuka ruang bagi produk komunitas untuk dikenal oleh konsumen di luar wilayah produksinya.

Sementara itu, KTH Mulya Sari Desa Cilangkap, Kecamatan Wanasalam Kabuoaten Lebak Banten menghadirkan gula aren murni yang memanfaatkan potensi hasil hutan. Produk ini memperlihatkan peran sumber daya alam dalam mendukung ekonomi masyarakat, dengan pengelolaan yang perlu terus memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan ketersediaan sumber penghidupan bagi generasi berikutnya.

Tidak hanya produk pangan, stan FKKM juga menampilkan kerajinan Tas Koja Baduy dari LMDH Sangkanjaya Kecamatan Cimarga, Lebak dalam berbagai ukuran, mulai dari kecil, sedang, hingga besar. Kerajinan tersebut melengkapi ragam produk yang diperkenalkan kepada pengunjung, bersama kotak tisu eksklusif sebagai produk kerajinan tangan.

Keberagaman produk ini menggambarkan potensi ekonomi komunitas yang tidak hanya bertumpu pada satu komoditas. Pangan olahan, kopi, hasil hutan, dan kerajinan dapat menjadi bagian dari pengembangan usaha masyarakat sesuai dengan sumber daya, keterampilan, serta karakter wilayah masing-masing.

Membuka Akses Pasar, Menguatkan Ekonomi Komunitas

Menurut Riska Agustina, Koordinator Program Setapak IV FKKM mengatakan kebanggaanya bisa berpartisipasi dalam kegiatan Bazar Pasar Hijau Rakyat PARARA 2026. Menurutnya, even ini sangat penting bukan hanya bagi FKKM tetapi juga bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan karena dapat membantu pengembangan usaha berbasis potensi lokal merupakan salah satu jalan untuk memperkuat penghidupan. Namun, menghasilkan produk berkualitas saja belum cukup. Produk komunitas juga membutuhkan akses pasar, pengenalan kepada konsumen, kemasan yang sesuai, serta hubungan pemasaran yang dapat mendukung keberlanjutan usaha.

Melalui keikutsertaan dalam Pasar Hijau Rakyat PARARA 2026, FKKM berupaya mempertemukan produk-produk komunitas dengan pasar yang lebih luas. Pameran ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memperkenalkan hasil usaha sekaligus membangun kesadaran bahwa produk lokal memiliki nilai ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Dukungan terhadap produk komunitas juga perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Ketika masyarakat memperoleh kesempatan untuk mengembangkan usaha dari potensi wilayahnya, manfaat ekonomi diharapkan dapat kembali kepada pelaku usaha dan komunitas. Pada saat yang sama, pengembangan usaha perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga sumber daya alam yang menjadi fondasi penghidupan mereka.

Pendekatan ini penting bagi komunitas sekitar hutan, yang kehidupan sehari-harinya berkaitan erat dengan ketersediaan lahan, hasil hutan, keanekaragaman hayati, dan kondisi lingkungan. Penguatan ekonomi masyarakat dan pelestarian lingkungan bukan dua hal yang harus dipertentangkan, melainkan perlu dikelola agar dapat saling mendukung.

Mengenalkan Pangan Lokal sebagai Bagian dari Keberlanjutan

Bazar Pasar Hijau Rakyat PARARA 2026 berlangsung sejak pagi hingga malam hari dengan beragam kegiatan pendukung, antara lain talkshow edukatif, demonstrasi memasak pangan lokal, penampilan seni budaya, dan pemutaran film lingkungan. Rangkaian kegiatan tersebut membuka ruang bagi masyarakat untuk mengenal pangan lokal dan isu keberlanjutan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Peringatan Hari Pangan Sedunia menjadi momentum untuk melihat kembali pentingnya sistem pangan yang beragam, tangguh, dan berkelanjutan. Pangan tidak semata-mata berkaitan dengan apa yang tersaji di meja makan, tetapi juga dengan siapa yang memproduksinya, dari mana bahan pangan berasal, bagaimana sumber daya alam dikelola, dan siapa yang memperoleh manfaat ekonomi dari proses tersebut.

Dalam konteks ini, produk komunitas membawa pesan bahwa upaya membangun sistem pangan berkelanjutan perlu memberikan ruang bagi masyarakat lokal sebagai pelaku penting. Pengetahuan setempat, keragaman komoditas, keterampilan pengolahan, dan hubungan masyarakat dengan lingkungannya merupakan bagian dari kekuatan yang dapat terus dikembangkan.

Melalui partisipasi dalam PARARA 2026, FKKM mengajak masyarakat untuk semakin mengenal, mencintai, dan mendukung produk lokal. Dukungan tersebut dapat dimulai dari pilihan sederhana, seperti membeli produk komunitas, mengenali asal-usul produk, serta menghargai kerja dan pengetahuan masyarakat di baliknya.

Pada akhirnya, memperluas pasar produk komunitas bukan hanya tentang meningkatkan penjualan. Upaya ini juga berkaitan dengan membuka peluang penghidupan, memperkuat ekonomi rakyat, dan mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab. Dari secangkir kopi lokal, olahan buah pala, gula aren, hingga kerajinan tangan, terdapat cerita tentang masyarakat dan wilayah yang perlu terus mendapat ruang untuk tumbuh bersama.

 

Post Terkait

Comments

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *